Pewarisan Budaya

Jumat, 06 Februari 2015

Pewarisan Budaya

Pengertian Pewarisan Budaya

Bagaimanakah hidup yang kalian jalani saat ini. Tinggal di rumah permanen, di dalamnya terdapat perabotan rumah tangga, dari peralatan dapur, kursi, lemari, hingga seperangkat peralatan elektronik, seperti radio, televisi, DVD, dan sebagainya. Kalian pergi ke sekolah dengan menggunakan kendaraan. Kalian dapat pergi ke warung, toko atau supermarket untuk belanja, menggunakan telepon atau hand phone untuk menyampaikan pesan kepada orang tua. Alangkah cepat dan instannya kehidupan yang kita alami sekarang ini. Mengapa manusia dapat sampai pada tingkat kehidupan seperti yang kalian jalani seperti sekarang ini? Tentu saja karena pewarisan budaya yang dilakukan manusia secara terus menerus dan secara berkesinambungan dari generasi ke generasi. Setiap generasi mengembangkan dan menyempurnakan budaya yang diwarisinya sehingga sampailah manusia pada kebudayaan seperti yang kalian alami saat ini.

Apakah pengertian pewarisan budaya? Pewarisan budaya adalah suatu proses, perbuatan atau cara mewarisi budaya masyarakatnya. Proses pewarisan budaya disebut juga dengan socialization. Proses pewarisan budaya dilakukan oleh masyarakat terhadap warga masyarakat dalam sepanjang hayat anggota masyarakat. Berlangsung dari sejak lahir hingga akhir hidup. Tujuan pewarisan budaya adalah membentuk sikap dan perilaku warga masyarakat sesuai dengan budaya masyarakatnya. Budaya diwariskan dari generasi terdahulu ke generasi berikutnya. Untuk selanjutnya diteruskan ke generasi yang akan datang. Dalam proses pewarisan dari suatu generasi ke generasi berikutnya terjadi proses penyesuaian dan penyempurnaan budaya yang diwariskan sesuai dengan perkembangan zaman dan kemajuan masyarakat. Selalu ada dinamika budaya, meskipun diwariskan, budaya selalu bergerak maju, sehingga budaya yang diwariskan tidak mungkin lagi sama persis dengan budaya aslinya.

Pewarisan budaya dilakukan melalui sosialisasi. Sosialisasi ialah proses penanaman nilai, peraturan, norma, adat istiadat masyarakat dengan tujuan setiap anggota masyarakat mengenal, menghayati dan melaksanakan kebudayaan yang ada dan berlaku di masyarakatnya. Melalui sosialisasi diharapkan setiap anggota masyarakat mampu memainkan peran sosialnya dalam berbagai lingkungan secara baik dan bertanggung jawab sesuai dengan harapan-harapan masyarakatnya. Sosialisasi berlangsung dari masa anak-anak hingga tua. Pada masa anak-anak sampai pemuda, tujuan sosialisasi adalah membentuk kepribadian yang baik. Bagi orang dewasa, tujuan sosialisasi adalah penyesuaian dengan jabatan atau posisi-posisi baru yang diperolehnya. Pada prinsipnya sosialisasi sama dengan enkulturasi. Bedanya adalah; pada sosialisasi individu bersikap pasif dan dibebani tugas dan kewajiban dalam mempelajari budaya masyarakatnya sedangkan pada enkulturasi, individu bersikap lebih aktif dan bertindak sebagai subjek dalam mempelajari budaya masyarakatnya.
Pewarisan budaya dapat dilakukan melalui sosialisasi, misalnya orang tua kepada anaknya.

Sosialisasi selalu diwarnai reward and punishment. Kepada setiap anggota masyarakat yang dinilai mendukung dan berjasa dalam pelestarian kebudayaan masyarakatnya akan diberikan pujian dan penghargaan (reward) oleh masyarakatnya. Sebaliknya, kepada setiap anggota masyarakat yang dinilai melanggar budaya masyarakatnya maka akan diberikan sanksi atau hukuman (punishment) yang sepadan oleh masyarakatnya.

Tujuan pemberian hukuman/sanksi (punishment) adalah untuk mendisiplinkan, menyadarkan dan mengembalikan para pelanggar ke jalan yang benar, sehingga mereka dapat hidup lurus dan bertanggung jawab sesuai dengan kelakuan kolektif masyarakatnya. Pemberian sanksi pada umumnya dikenal sebagai bagian dari social controle. Cara agar anggota masyarakat terhindar dari sanksi, adalah dengan bersikap konformitas yang tinggi terhadap budaya masyarakatnya, yang ditunjukkan dengan cara bersikap dan bertingkah laku yang sama dengan kolektif masyarakat.

Kapan dan di mana Terjadi Pewarisan Budaya

Kapan terjadi pewarisan budaya (sosialisasi)? Pada prinsipnya pewarisan budaya (sosialisasi) terjadi dalam sepanjang hidup manusia, dari sejak lahir hingga matinya manusia, baik secara sadar maupun tidak sadar. Dimanakah terjadi pewarisan budaya? Pewarisan budaya terjadi dalam berbagai lembaga-lembaga kebudayaan manusia, terutama lima lembaga kebudayaan manusia, yaitu lembaga keluarga, lembaga pendidikan, lembaga ekonomi, lembaga agama dan lembaga pemerintahan.

Menurut Kamanto Sunanto (1999), salah satu fungsi lembaga keluarga adalah mensosialisasikan anggota baru masyarakat sehingga dapat memerankan apa yang diharapkan darinya. Perhatikanlah diri kalian ketika kecil, diajarkan oleh orang tua untuk selalu mengenakan pakaian, dilatih untuk berjalan, dibiasakan untuk makan,berjabat tangan dengan menggunakan tangan kanan, dilatih untuk menggunakan peralatan rumah tangga, diajari untuk berbicara dan bersikap sopan, diperkenalkan dengan berbagai jenis norma yang ada di masyarakat, dengan harapan kalian dapat menyesuaikan diri dengan masyarakat. Itu semua adalah proses pewarisan budaya.

Kapan pewarisan budaya dalam keluarga itu terjadi? Pewarisan budaya dalam keluarga terjadi secara alamiah dan dengan sendirinya. Ketika keluarga bersenda gurau bersama di ruang keluarga, sesungguhnya tanpa disadari sedang terjadi pewarisan budaya. Ketika keluarga sedang makan bersama sambil berbincang-bincang, sesungguhnya sedang terjadi pewarisan budaya. Ketika keluarga sedang berkreasi ke suatu tempat, sesungguhnya sedang terjadi pewarisan keluarga. Ketika orang tua memberi nasehat, memberi hukuman, serta memberi pujian dan hadiah, sesungguhnya sedang terjadi pewarisan budaya. Pewarisan budaya dalam keluarga terjadi setiap hari, pada setiap peristiwa keluarga, dan pada setiap kontak sosial dalam kehidupan keluarga. Lihat dan telitilah kalian. Mungkin kalian mewarisi beberapa gaya, cara dan bakat orang tua kalian.

Fungsi lembaga pendidikan menurut Horton dan Hunt (1984) di antaranya adalah mempersiapkan anggota masyarakat untuk mencari nafkah, melestarikan kebudayaan dan menanamkan keterampilan baru yang perlu bagi partisipasi dalam masyarakat demokrasi. Apa yang kalian alami di sekolah? Setiap hari kalian menerima pelajaran dari bapak dan ibu guru. Melalui pelajaran Antropologi, diperkenalkan manusia dan budayanya dari zaman dahulu hingga sekarang. Melalui pelajaran sosiologi, diperkenalkan manusia dalam kehidupan sosialnya. Melalui pelajaran, diajarkan untuk memahami makna kata-kata dan menggunakan dengan baik. Melalui pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan, dididik agar kalian menjadi warga negara yang baik, dan sebagainya. Tujuan dari semuanya adalah kalian dapat hidup sesuai dengan kebudayaan dan mengembangkan kebudayaan untuk kehidupan yang lebih baik. Itu semua adalah proses pewarisan budaya.

Kapan pewarisan budaya di sekolah terjadi? Pewarisan budaya dalam keluarga terjadi setiap hari, sejak seorang manusia bersekolah. Proses pewarisan budaya di sekolah pada umumnya terjadi secara sadar dan dengan terencana. Ketika kalian mengikuti pelajaran di kelas, sesungguhnya sedang terjadi proses pewarisan budaya. Ketika kalian mengikuti upacara bendara, sesungguhnya sedang terjadi proses pewarisan budaya. Ketika kalian sedang menghadap guru BP, sesungguhnya sedang terjadi proses pewarisan budaya. Ketika kalian sedang bermain dan bersenda gurau dengan teman-teman saat istirahat, sesungguhnya sedang terjadi pewarisan budaya dari siswa senio ke siswa junior, dari siswa dengan kemampuan belajar cepat kepada siswa dengan kemampuan belajar lambat.

Contoh sederhana dari lembaga agama adalah Muhammadiyah, Nahdatul Ulama, Majelis Ulama Indonesia (MUI), Persekutuan Gereja Indonesia (PGI), Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI), Perwalian Umat Budha Indonesia (WALUBI) dan Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI). Fungsi lembaga agama menurut Koentjaraningrat (1997) di antaranya adalah menyediakan model alam semesta yang teratur untuk mendorong terwujudnya keteraturan perilaku manusia, sarana pengendali sosial yang memberi sanksi kepada sejumlah besar tata kelakukan yang bertentangan dengan ajaran agama dan memelihara solidaritas sosial.

Kapan terjadi pewarisan budaya dalam lembaga keagamaan? Pewarisan budaya dalam lembaga keagamaan terjadi setiap kali kalian melihat dan melaksanakan upacara keagamaan. Ketika kalian berbicara dengan tokoh agama mengenai segala sesuatu yang berhubungan dengan agama, sesungguhnya sedang terjadi proses pewarisan budaya. Ketika kalian mendengarkan khotbah dari tokoh-tokoh agama, sesungguhnya sedang terjadi proses pewarisan budaya. Ketika kalian sedang mengikuti dan melaksanakan upacara agama, sesungguhnya sedang terjadi proses pewarisan budaya, ketika kalian membaca kitab suci agama, sesungguhnya sedang terjadi proses budaya, dan sebagainya. Tujuan akhirnya adalah terwujudnya manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Pada umumnya lembaga agama melaksanakan pewarisan budaya secara sadar dan terencana. Untuk itu lembaga agama sering melakukan berbagai pertemuan anggota-anggotanya, mengadakan seminar, diskusi, dan berbagai jenis pertemuan-pertemuan agama.

Menurut Paul B. Horton dan Chester L. Hunt (1999), fungsi lembaga ekonomi adalah memproduksi dan mendistribusikan kebutuhan pokok manusia. Contoh dari lembaga ekonomi dalam kehidupan manusia di antaranya adalah supermarket, koperasi, bank, dan sebagainya. Pasti kalian pernah bahkan sering belanja ke super market, kalian melihat dan menentukan pilihan barang yang akan dibeli, kemudian kalian pergi ke kasir , membayarnya dan barang itu menjadi milik kalian seutuhnya. Keseluruhan proses belanja itu adalah proses pewarisan budaya. Setiap manusia melakukan transaksi ekonomi dalam rangka memenuhi kebutuhannya, pada saat itu juga terjadi proses pewarisan budaya.

Menurut Mirriam Budiardjo (2000). Apapun paham atau ideologinya, setiap negara di dunia memiliki beberapa fungsi manifes yang mutlak dilaksananakan untuk mewujudkan tujuan negaranya. Fungsi negara secara umum adalah :

a. Melaksanakan penertiban (law and order)
Penertiban mutlak dilakukan untuk mencapai tujuan bersama dan mencegah terjadinya bentrokan dalam masyarakat. Singkatnya negara berfungsi sebagai stabilisator.

b. Mengusahakan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat
Fungsi ini semakin penting dewasa ini, terutama bagi negara yang menganut paham negara kesejahteraan (welfare staat). Untuk mewujudkan fungsi ini, hampir seluruh negara di dunia melaksanakan pembangunan nasional.

c. Pertahanan
Fungsi ini diperlukan untuk menjaga kemungkinan terjadinya serangan dari luar. Untuk itu negara dilengkapi dengan alat-alat pertahanan.

d. Menegakkan keadilan
Fungsi ini dilaksanakan oleh badan penegak hukum, khususnya badan-badan peradilan.
Harapan utama pemerintah dalam rangka mewujudkan fungsi negara adalah rakyatnya mengetahui dan mematuhi peraturan perundang-undangan serta berpatisipasi dalam kehidupan pemerintahan. Berbagai upaya dilakukan pemerintah untuk mewujudkan kepatuhan warga negara terhadap hukum. Sosialisasi hukum dilakukan secara terus menerus oleh pemerintah, bekerja sama dengan berbagai lembaga kebudayaan. Berbagai sarana mengekspresikan diri diadakan untuk melibatkan rakyat dalam kehidupan pemerintahan.

Kapankah pemerintah melakukan pewarisan budaya terhadap rakyatnya? Pada prinsipnya pemerintah melakukan pewarisan budaya kepada rakyatnya setiap saat dan kesempatan, baik secara langsung maupun tidak langsung. Ketika kalian mendengarkan pidato dan percakapan pejabat-pejabat negara, sesungguhnya saat itu sedang terjadi proses pewarisan budaya. Ketika kita sedang ditegur polisi karena melanggar peraturan lalu lintas, sesungguhnya sedang terjadi proses pewarisan budaya. Ketika kalian sedang membaca peraturan perundang-undangan, sesungguhnya saat itu sedang terjadi proses pewarisan budaya. Ketika kalian harus membayar pajak, sesungguhnya saat itu sedang terjadi proses pewarisan budaya. Ketika kalian melihat dan melakukan apa saja yang berhubungan dengan hak dan kewajiban sebagai warga negara, sesungguhnya itu semuanya adalah proses pewarisan budaya.

Internalisasi

Kebudayaan yang diwariskan oleh nenek moyang kepada kita tidak dengan serta merta menjadi milik kita seutuhnya. Pada setiap proses pewarisan budaya, orang yang menjadi sasaran pewarisan akan menentukan sikap, menerima atau menolak warisan budaya itu. Bila keputusannya adalah menolak maka budaya yang diwariskan itu tidak akan pernah menjadi milik pribadi yang bersangkutan. Bila keputusannya adalah menerima maka budaya yang diwariskan itu akan menjadi miliknya. Langkah selanjutnya yang harus dilakukan untuk memastikan budaya yang diwariskan itu menjadi miliknya adalah dengan melakukan internalisasi.

Internalisasi adalah proses mencerna dan meresapkan nilai-nilai budaya ke dalam hati sanubari anggota masyarakat sehingga alam pikiran, sikap dan perilakunya sesuai dengan kebudayaan masyarakatnya. Keberhasilan sosialisasi sangat tergantung pada kesadaran, keinginan dan tekad yang kuat pada diri setiap individu untuk menerima dan mengikuti budaya masyarakatnya, dan pada akhirnya menjadikan budaya masyarakat itu sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kepribadiannya.

Seseorang yang sedang melakukan proses internalisasi sangat mungkin mengalami perang batin. Penyebabnya adalah nilai budaya yang ada dinilai sudah usang atau irrasional, tetapi sebagai anggota masyarakat, individu yang bersangkutan diharuskan bersikap konformitas guna mengikuti kelakuan kolektif.

Proses internalisasi berlangsung dengan pelan-pelan, penuh kesabaran, hati-hati dan memerlukan momen-momen yang tepat. Jika prosesnya tergesa-gesa, sembrono dan tidak pada moment yang tepat maka internalisasi akan mengalami kegagalan. Proses internalisasi dapat berlangsung dengan keras, berat dan disiplin hanya pada lembaga-lembaga tertentu, seperti lembaga pendidikan militer, kepolisian dan kedinasan lainnya. Ini juga dilakukan untuk mencapai tujuan maksimal dari sosialisasi.

Adaptasi

Setiap manusia yang telah melakukan internalisasi terhadap budaya yang diwarisinya diharapkan dapat beradaptasi dengan lingkungannya.Menurut William A. Haviland (1999) adaptasi mengacu pada proses interaksi antara perubahan yang ditimbulkan oleh organisme pada lingkungannya dan perubahan yang ditimbulkan oleh lingkungan pada organisme. Adaptasi adalah penyesuaian dua arah, yaitu antara organisme dengan lingkungannya. Adaptasi sangat diperlukan agar semua bentuk kehidupan dapat bertahan hidup termasuk manusia.

Bagaimana cara manusia beradaptasi? Menurut William A. Haviland (1999), “manusia beradaptasi melalui medium kebudayaan pada waktu mereka mengembangkan cara-cara untuk mengerjakan sesuatu sesuai dengan sumber daya yang mereka temukan dan juga dalam batas-batas lingkungan tempat mereka hidup. Di daerah-daerah tertentu, orang yang hidup dalam lingkungan yang serupa cenderung saling meniru kebiasaan, yang tampaknya berjalan baik di lingkungan itu”. Keberhasilan beradaptasi akan menjadikan manusia sebagai pribadi yang selaras dengan lingkungan budaya dan sosialnya.

Manusia mampu beradaptasi dengan lingkungan hidupnya bersama budaya yang dimilikinya. Manusia membuat pakaian dan tempatberlindung seperti gua dan rumah agar dapat bertahan hidup dalam situasi dan kondisi iklim dan cuaca buruk. Manusia membuat senjata seperti tombak, panah, jaring perangkat agar dapat bertahan hidup dari terkaman buaya. Sesuai dengan nalurinya sebagai makhluk berbudaya, manusia mampu mengorganisasikan dirinya sedemikian rupa sehingga taraf hidupnya lebih unggul dibandingkan dengan makhluk hidup yang lain.

Menurut William A. Haviland (1999), berburu dan meramu adalah tipe adaptasi manusia yang tertua dan mendasar. Koentjaraningrat (1999) menjelaskan; “berburu dan meramu merupakan mata pencaharian manusia yang sangat berhubungan. Suku-suku bangsa pemburu biasanya juga meramu, yaitu mengumpulkan berbagai jenis tumbuh-tumbuhan dan akar-akar atau umbi yang dapat dimakan, dan bahkan mencari ikan. Dalam Antropologi ketiga jenis mata pencaharian ini disebut dengan ekonomi pengumpulan bahan pangan. Setelah bertahan selama hampir 2 juta tahun, berburu dan meramu mulai ditinggalkan dan hilang dari muka bumi sejak abad ke-19, bersamaan dengan dikenal dan beralihnya manusia ke pertanian.

Tipe adaptasi manusia selanjutnya adalah bertani. Menurut ahli sejarah kebudayaan, Verre Gordon Childe yang dikutip oleh Koentjaraningrat dalam buku Pengantar Antropologi (1999 : 53), penemuan kepandaian bercocok tanam merupakan suatu peristiwa sangat penting dalam proses perkembangan kebudayaan umat manusia, yang disebutnya suatu revolusi kebudayaan. Dari bercocok tanam ladang yang berpindah-pindah ke bercocok tanam yang menetap. Ada beberapa cara bercocok tanam menetap, berawal dari bercocok tanan tanpa menggunakan tanpa bajak (hand agriculture) hingga bercocok tanam dengan menggunakan bajak (plough agriculture).

Kemajuan teknik pertanian menyebabkan melimpahruahnya hasil pertanian. Kemakmuran akan diikuti dengan pertambahan jumlah penduduk, atau bisa juga sebaliknya. Hal ini akan mendorong berubahnya pemukiman petani menjadi kota. Kehadiran kota tentu membawa cara hidup yang sama sekali baru. Perubahan lingkungan alam dan sosial harus diikuti oleh adaptasi manusia terhadap lingkungan itu agar dapat bertahan hidup. Muncul spesialisasi dalam berbagai bidang kehidupan yang melahirkan profesi. Muncul tukang kayu, pandai besi, pemahat, pembuat keranjang, pemecah batu, dokter, guru, pengacara, pengusaha, bankir, montir, juru masak, tentara, dan sebagainya.
Pewarisan Budaya Rating: 4.5 Diposkan Oleh: al bathn