Jamur / Fungi dan Ciri-Ciri Jamur / Fungi

Rabu, 04 Februari 2015

Jamur / Fungi dan Ciri-Ciri Jamur / Fungi

Coba Anda perhatikan jenis makanan pada Gambar 6.1! Tempe merupakan makanan khas dari Indonesia. Selain murah dan rasanya enak, tempe merupakan salah satu makanan yang memiliki kadar protein nabati tinggi. Tempe banyak diusahakan oleh masyarakat sebagai salah satu jenis kegiatan industri kecil.

Tahukah Anda cara pembuatan tempe dan apakah yang berperan dalam proses peragian/fermentasi sehingga terbentuk ‘tempe’? Fermentasi pada pembuatan tempe dibantu oleh suatu jamur atau cendawan, kapang, atau sering disebut juga dengan fungi. Inginkah Anda mengetahui lebih lanjut tentang bentuk jamur? Selain tempe, makanan atau minuman apa yang proses pembuatannya dibantu oleh jamur? Carilah informasinya!
Sebenarnya masih banyak jenis jamur di sekitar kita. Cobalah Anda amati lagi di sekitar halaman rumah, sekolah, atau kebun. Pernahkah Anda melihat jamur yang hidup di batang kayu atau di sekitar sampah? Bagaimana bentuk dari jamur tersebut, termasuk jenis apakah jamur itu? Ada jamur yang dapat dimakan, misalnya jamur merang dan jamur kuping. Jamur jenis ini memiliki nilai gizi yang tinggi, termasuk jenis apakah jamur ini?

Selain menguntungkan, jamur juga dapat merugikan, Misalnya menyebabkan penyakit dan kebusukan. Contoh penyakit yang disebabkan jamur adalah panu, kadas, dan keputihan, sedangkan kebusukan dapat menyerang akar, batang, daun, dan buah tanaman yang menyebabkan petani rugi.

Karena jamur berhubungan dengan kehidupan kita, maka kita mempelajari jamur lebih mendalam. Sebelum kita membahas akan masalah jamur, terlebih dahulu Anda lakukan kegiatan berikut agar dapat mengetahui secara nyata bentuk dan ciri-ciri jamur.

Ciri-Ciri Jamur / Fungi

Jika Kegiatan Kelompok 1 yang Anda lakukan benar, maka Anda akan mengetahui ciri-ciri jamur. Beberapa ciri-ciri jamur yang perlu Anda ketahui adalah sebagai berikut.

1. Ciri Morfologi

Seperti yang Anda amati dalam Kegiatan Kelompok 1, bentuk jamur mirip dengan tumbuhan, tetapi tidak memiliki daun dan akar yang sejati, juga tidak mempunyai klorofil sehingga dia tidak dapat melakukan fotosintesis. Untuk itulah jamur digolongkan atau diklasifikasikan tersendiri karena tidak dapat digolongkan dalam tumbuhan atau hewan.
Dari hasil kegiatan yang Anda lakukan, Anda dapat mengetahui ternyata jenis jamur ada yang dapat dilihat secara langsung atau bentuknya makroskopis dan ada yang harus diamati menggunakan mikroskop karena bentuknya mikroskopis.
Pada umumnya jamur mempunyai sel banyak (multiseluler) misalnya jamur merang dan jamur tempe, tetapi ada juga yang bersel tunggal (uniseluler) seperti ragi atau yeast/ Saccharomyces. Jamur yang multiseluler tersusun atas benang-benang yang disebut dengan hifa.
Hifa yang bersekat dan tidak bersekat

Dari Gambar tampak bahwa pada hifa yang bersekat, tiap sekat terdapat satu sel yang terdiri atas satu atau beberapa inti sel. Adapun pada hifa yang tidak bersekat, inti selnya tersebar di dalam sitoplasma yang disebut dengan sinositik. Seperti yang terlihat pada mikroskop, sel-sel jamur ini sudah memiliki membran inti sel, sehingga dikelompokkan sebagai organisme eukariotik. Dinding sel jamur ini terbuat dari kitin yang dapat memberikan bentuk dari sel-sel jamur.

Jalinan/kumpulan hifa-hifa ini akan membentuk suatu miselium, dan miselium inilah yang tumbuh menyebar di atas substrat dan berfungsi sebagai penyerap makanan dari lingkungannya.

Bagaimana cara jamur mendapatkan makanan? Seperti yang Anda lihat, karena jamur tidak mempunyai klorofil, jadi dia tidak dapat berfotosintesis, sehingga hidup secara heterotrof dengan memperoleh zat makanannya dengan cara menyerap dari lingkungannya atau substratnya. Tetapi makanannya yang masih berbentuk senyawa-senyawa kompleks akan diuraikan terlebih dahulu di luar sel jamur, yaitu dengan menghasilkan enzimenzim hidrolitik ekstraseluler.

Makanan jamur bisa berasal dari sumber-sumber seperti tanah subur, produk makanan buatan pabrik, tubuh hewan atau tumbuhan, baik yang sudah mati (sebagai saprofit) atau yang masih hidup. Jamur yang hidup pada inang hidup dapat bersimbiosis mutualisme, yaitu dapat membantu tumbuhan memperoleh mineral dari tanah. Tetapi kebanyakan bersifat parasit, jamur ini memiliki haustorium, yaitu suatu hifa yang khusus digunakan untuk menyerap makanan dari inangnya.


2. Cara Bereproduksi

Secara alamiah, jamur dapat berkembang biak dengan dua cara, yaitu secara aseksual dan seksual. Secara aseksual dilakukan dengan pembelahan, yaitu dengan cara sel membagi diri untuk membentuk dua sel anak yang serupa, penguncupan, yaitu dengan cara sel anak yang tumbuh dari penonjolan kecil pada sel inangnya atau pembentukan spora. Spora aseksual ini berfungsi untuk menyebarkan speciesnya dalam jumlah yang besar dengan melalui perantara angin atau air.

Ada beberapa macam spora aseksual, di antaranya seperti berikut.
  • Konidiospora, merupakan konidium yang terbentuk di ujung atau di sisi hifa. Ada yang berukuran kecil, bersel satu yang disebut mikrokonidium, sebaliknya konidium yang berukuran besar dan bersel banyak disebut makrokonidium.
  • Sporangiospora, merupakan spora bersel satu yang terbentuk dalam kantung yang disebut sporangium, pada ujung hifa khusus.
Ada dua macam sporangiospora yang tidak bergerak (nonmotil) disebut aplanospora dan sporangiospora yang dapat bergerak karena mempunyai flagela yang disebut zoospora.
  • Oidium/artrospora, yaitu spora bersel tunggal yang terbentuk karena terputusnya sel-sel hifa.
  • Klamidospora, merupakan spora bersel satu, berdinding tebal, dan sangat resisten terhadap keadaan yang buruk. Spora ini terbentuk dari sel-sel hifa yang somatik.
  • Blatospora merupakan tunas/kuncup pada sel-sel khamir.
Perkembangbiakan jamur secara seksual dilakukan dengan peleburan inti sel/nukleus dari dua sel induknya. Reproduksi secara seksual ini lebih jarang dilakukan dan jumlahnya lebih sedikit dibandingkan secara aseksual. Perkembang-biakan ini terjadi apabila berada dalam keadaan tertentu.
Seperti halnya spora aseksual jamur, jenis spora seksual jamur pun bermacam-macam, yaitu sebagai berikut.

Gambar 6.3 Jenis-jenis spora aseksual pada jamur

Macam-Macam Spora Seksual Jamur
  1. Askospora Merupakan spora bersel satu yang terbentuk di dalam kantung yang dinamakan askus. Dalam setiap askus terdapat askospora.
  2. Basidiospora Merupakan spora bersel satu yang terbentuk di atas struktur berbentuk gada yang dinamakan basidium.
  3. Zygospora Merupakan spora besar berdinding tebal, terbentuk dari ujung-ujung dua hifa yang serasi yang dinamakan gametangia.
  4. Oospora Merupakan spora yang terbentuk dari pertemuan antara gamet betina (oogonium) dan gamet jantan (anteridium), sehingga akan terjadi pembuahan (oosfer) dan akan menghasilkan oospora.

Perhatikan macam-macam spora seksual pada Gambar berikut!
Jenis-jenis spora seksual

3. Ciri Fisiologi

Cobalah Anda amati makanan seperti selai atau manisan yang sudah basi! Apabila sudah basi, sering makanan itu terlihat berwarna kehitaman, warna itu merupakan jamur yang merusak, bukan bakteri. Dengan demikian, dapat diketahui jamur lebih tahan hidup dalam keadaan alam sekitar yang tidak menguntungkan dibandingkan dengan jasad-jasad renik lainnya. Jamur dapat tumbuh pada suhu yang luas dari suhu yang mendekati 0°C sampai 37°C.
Jamur / Fungi dan Ciri-Ciri Jamur / Fungi Rating: 4.5 Diposkan Oleh: al bathn