Dinamika Kebudayaan

Jumat, 06 Februari 2015

Dinamika Kebudayaan

Sebelumnya kita telah mempelajari tentang pengertian, wujud, maupun unsur kebudayaan. Dalam bab ini kalian akan mempelajari tentang dinamika sebuah kebudayaan yang tentu saja selalu mengalami pergeseran sehingga disebut dinamika (selalu berubah). Suatu peristiwa atau fenomena kebudayaan sebagai proses yang sedang berjalan atau bergeser disebut dinamika kebudayaan. Untuk mempelajari tentang dinamika kebudayaan maka kalian akan diperkenalkan tentang konsep-konsep penting dalam dinamika kebudayaan, yaitu:

1. Sosialisasi

Seorang bayi yang baru dilahirkan merupakan makhluk tak berdaya karena dilengkapi dengan naluri yang relatif tidak lengkap. Oleh karena itu manusia mengembangkan kebudayaan untuk mengisi kekosongan yang tidak diisi oleh naluri. Kemudian manusia membuat seperangkat sikap dan nilai, kesukaan dan ketidaksukaan, tujuan serta maksud, pola reaksi, dan konsep yang mendalam serta konsisten tentang dirinya. Keseluruhan kebiasaan yang dimiliki manusia harus dipelajari oleh setiap anggota baru suatu masyarakat melalui suatu proses yang dinamakan sosialisasi yaitu suatu proses di mana seorang menghayati (mendarahdagingkan -inter-nalize) norma-norma kelompok di mana manusia hidup, sehingga timbullah 'diri' yang unik. Menurut Peter Berger, sosialisasi adalah proses melalui mana seorang anak belajar menjadi seorang anggota yangberpartisipasi dalam masyarakat. Proses sosialisasi ini berhubungan dengan proses mempelajari kebudayaan dalam sistem sosial tertentu. Menurut Koentjaraningrat, sosialisasi adalah proses individu dari masa anak-anak hingga masa tuanya belajar pola-pola tindakan dalam interaksi dengan segala macam individu di sekelilingnya yang menduduki bermacam-macam status dan menjalankan berbagai peranan sosial.

2. Asimilasi

Menurut Soerjono Soekanto, asimilasi merupakan proses sosial yang ditandai dengan adanya usaha-usaha mengurangi perbedaan-perbedaan yang terdapat antara orang-perorangan atau kelompok-kelompok manusia yang meliputi usaha-usaha untuk mempertinggi kesatuan tindak, sikap, dan proses mental dengan memperhatikan tujuan dan kepentingan bersama.
Pasar Tradisional Suralaga

Artinya, apabila orang-orang melakukan asimilasi ke dalam suatu kelompok manusia atau masyarakat maka tidak lagi membedakan dirinya dengan kelompok tersebut. Secara singkat proses asimilasi adalah peleburan dua kebudayaan menjadi satu kebudayaan. Tetapi hal ini tidak semudah yang dibayangkan karena banyak faktor yang mempengaruhi suatu budaya itu dapat melebur menjadi satu kebudayaan.

Adapun faktor-faktor yang mempermudah terjadinya asimilasi adalah:
a. Adanya sikap toleransi terhadap kebudayaan lain.
b. Kesempatan-kesempatan yang seimbang di bidang ekonomi.
c. Sikap menghargai orang asing dan kebudayaannya.
d. Sikap terbuka dari golongan yang berkuasa dalam masyarakat.
e. Persamaan dalam unsur-unsur kebudayaan.
f. Perkawinan campuran (amalgamation).
g. Adanya musuh dari luar.

Sedangkan faktor-faktor yang menghambat terjadinya asimilasi adalah:
a. Terisolasinya kehidupan suatu golongan tertentu dalam masyarakat.
b. Kurangnya pengetahuan mengenai kebudayaan yang dihadapi.
c. Perasaan takut terhadap kekuatan suatu kebudayaan yang dihadapi.
d. Perasaan bahwa suatu kebudayaan golongan atau kelompok tertentu lebih tinggi daripada kebudayaan golongan atau kelompok lainnya.
e. Perbedaan ciri-ciri badaniah seperti warna kulit.
f. In-group feeling (perasaan yang kuat) terhadap budaya kelompoknya.
g. Apabila golongan minoritas mengalami gangguan-gangguan dari golongan yang berkuasa.
Suku Dayak Letak suku yang terpencil menyebabkan sulit menerima kebudayaan lain terutama yang berbau peradaban/teknologi.

3. Akulturasi

Menurut Koentjaraningrat, akulturasi dapat diartikan sebagai suatu proses sosial yang timbul apabila suatu kelompok manusia dengan kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur-unsur dari suatu kebudayaan asing dengan sedemikian rupa sehingga unsur-unsur kebudayaan asing itu lambat laun diterima dan diolah ke dalam kebudayaan sendiri tanpa menyebabkan hilangnya kepribadian kebudayaan itu sendiri. Proses akulturasi yang berlangsung baik dapat menghasilkan integrasi unsur-unsur kebudayaan asing dengan unsur-unsur kebudayaan sendiri. Yang paling mudah menerima kebudayaan asing adalah generasi muda.

Coba kalian amati begitu mudahnya kalian menerima perkembangan model rambut penyanyi Barat atau model pakaian artis luar negeri. Biasanya unsur-unsur kebudayaan asing yang mudah diterima adalah unsur kebudayaan kebendaan, peralatan-peralatan yang sangat mudah dipakai dan dirasakan sangat bermanfaat seperti komputer, handphone, mobil, dan sebagainya. Sedangkan unsur kebudayaan asing yang sulit diterima adalah unsur kebudayaan yang menyangkut ideologi, keyakinan atau nilai tertentu yang menyangkut prinsip hidup seperti komunisme, kapitalisme, liberalisme, dan lain-lain.

4. Difusi

Merupakan penyebaran unsur-unsur kebudayaan yang terjadi melalui pertemuan-pertemuan antara individu-individu dalam suatu kelompok dengan individu dalam kelompok lainnya. Ada tiga cara dalam penyebaran kebudayaan, yaitu simbiotik, penetration pacifique, dan penetration violence . Penyebaran kebudayaan simbiotik masing-masing kebudayaan masih memegang kebudayaan sendiri jadi tidak ada perubahan kebudayaan. Penyebaran yang kedua, unsur budaya asing yang masuk tidak dilakukan dengan sengaja dan tanpa unsur paksaan. Berbeda dengan penyebaran budaya yang ketiga yaitu penetration pacifique yang memasukkan unsur kebudayaan dengan peperangan, penaklukan, atau penjajahan. Ini yang banyak terjadi di Indonesia.

5. Inovasi, Discovery, dan Invention

Adalah istilah-istilah yang berkaitan dengan penemuan teknologi baru. Inovasi adalah suatu proses pembaharuan dari penggunaan sumber-sumber alam, energi, modal, pengaturan, baru dari tenaga kerja, penggunaan teknologi, sistem produksi, maupun produk baru yang didapat melalui proses discovery dan invention. Discovery adalah suatu penemuan dari suatu kebudayaan yang baru baik yang berupa suatu alat baru maupun ide yang diciptakan individu atau kelompok individu dalam masyarakat yang bersangkutan. Sedangkan invention adalah ketika discovery dapat diterima, diakui, dan diterapkan oleh masyarakat secara luas. Menurut Koentjaraningrat, ada tiga faktor yang mendorong seseorang melakukan dan mengembangkan penemuan baru yaitu:
a. Kesadaran para anggota masyarakat akan kekurangan dalam unsur kebudayaannya.
b. Mutu dari keahlian kebudayaan.
c. Sistem perangsang bagi aktifitas mencipta atau menemukan dalam masyarakat.

Misalnya saja perkembangan penemuan handphone mulai dari gambar hitam putih menjadi berwarna, dari sebagai alat komunikasi menjadi alat untuk memfoto atau merekam. Perkem-bangan teknologi yang terbaru adalah dapat mengakses chanel televisi. Ini merupakan perkembangan teknologi yang akan terus mengalami perubahan sesuai dengan kebutuhan dan kepen-tingan masyarakat.
Selain konsep-konsep dalam kebu-dayaan tersebut, terdapat istilah-istilah kebudayaan lainnya yang dapat di-gunakan dalam memberikan analisis dinamika kebudayaan.

Kebudayaan Khusus (Subcultures) dan Kebudayaan Tandingan (Counter Cultures)
Setiap masyarakat modern meliputi beberapa kelompok orang yang memiliki sejumlah kebudayaan yang tidak dimiliki oleh kelompok lain. Kebudayaan yang khusus dalam kelompok kita mencakup pekerjaan, agama, suku bangsa, daerah, kelas sosial, usia, jenis kelamin, dan lain-lain. Misalnya saja anak muda sekarang memiliki gaya pakaian, rambut dan bahasa sendiri yang kadangkala tidak dimengerti oleh orang lain. Inilah yang disebut kebudayan khusus. Sedangkan kebudayaan tandingan adalah kebudayaan khusus yang berlawanan dengan kebudayaan induk. Misalnya saja geng kenakalan. Ini bukanlah suatu kelompok tanpa norma atau nilai-nilai moral tetapi kelompok tersebut memiliki norma dan nilai moral yang bersifat memaksa. Para remaja yang terbiasa dalam kebudayaan tandingan menentang norma-norma kebudayaan induk.

Kebudayaan Real dan Kebudayaan Ideal

Kebudayaan ideal mencakup tata kelakuan dan kebiasaan yang secara formal disetujui yang diharapkan diikuti oleh banyak orang (norma-norma budaya) sedangkan kebudayaan real mencakup hal-hal yang betul-betul mereka laksanakan. Misalnya saja larangan untuk tidak minum-minuman keras karena mengakibatkan seseorang individu mabuk dan bersikap tidak rasional lagi. Tetapi kenyataannya banyak toko-toko yang menjual minuman ini bahkan adanya diskotik-diskotik cenderung menampilkan sisi negatif dari kehidupan malam termasuk minuman keras. Ini menggambarkan bahwa antara kebudayaan real dan kebudayaan ideal tidak bisa sejalan.

Bukti bahwa kebudayaan ideal kadang-kadang tidak sejalan dengan kebudayaan real. Aturan yang melarang seseorang minum-minuman keras, tetap membuat orang-orang melakukan kegiatan tersebut secara sembunyi-sembunyi
Dinamika Kebudayaan Rating: 4.5 Diposkan Oleh: al bathn