Percampuran Kebudayaan Hindu–Buddha dan Islam

Jumat, 16 Januari 2015

Percampuran Kebudayaan Hindu–Buddha dan Islam

Sejak masuknya agama dan kebudayaan Islam, kebudayaan Indonesia mengalami pergeseran. Namun, seperti halnya kebudayaan Hindu, kebudayaan Islam yang masuk akhirnya berbaur dengan kebudayaan yang sudah ada di Indonesia. Pada waktu kebudayaan Islam masuk ke Indonesia, pengaruh unsur kebudayaan Hindu–Buddha masih cukup kuat. Akibatnya, kebudayaan Islam masih terpengaruh unsur kebudayaan Hindu–Buddha.

Percampuran kebudayaan lokal, Hindu–Buddha, dan Islam dapat dilihat dalam bentuk peninggalan fisik dan nonfisik.

Percampuran Kebudayaan Hindu–Buddha dan Islam yang Berbentuk Peninggalan Fisik

Peninggalan fisik masa pertumbuhan kerajaan Islam yang merupakan hasil perpaduan dengan budaya setempat, antara lain sebagai berikut.

a. Seni Bangunan
Bentuk bagunan yang merupakan hasil perpaduan Islam dengan budaya setempat,

b. Seni Rupa
Di dalam ajaran Islam terdapat larangan melukiskan makhluk hidup. Hal ini ditaati benar di Indonesia. Dalam seni rupa Indonesia zaman Madya, hampir tidak ada seni pahat patung seperti yang telah berkembang pada zaman Kuno. Ragam hias pada zaman Madya terpengaruh oleh ragam hias zaman Kuno. Hampir semua pola ragam hias zaman Kuno digunakan untuk ragam hias bangunan zaman Madya.

c. Seni Sastra
Hasil seni sastra zaman Madya yang sampai pada kita ternyata tidak sebanyak hasil seni sastra zaman Kuno. Mungkin karya sastra zaman itu lebih banyak daripada yang kita ketahui, tetapi karena tidak seperti seni sastra zaman Kuno yang tetap disimpan dengan baik, maka yang sampai pada generasi penerusnya sangat sedikit. Di Bali, seni sastra zaman Madya hanya sedikit saja yang masih dijumpai.

Berbeda pula dengan seni sastra zaman Kuno, angka tahun pada karya sastra zaman Madya tidak dapat dipakai sebagai patokan neriodisasi karya sastra tersebut. Karya sastra zaman Madya yang ditemukan belum dapat ditentukan apakah karya sastra itu asli atau salinan. Mungkin saja angka tahun yang tercantum adalah angka tahun saat penyalinan naskah tersebut.

d. Wayang
Wayang merupakan warisan tradisi lokal. Wayang mendapat pengaruh Hindu–Buddha dan ketika Islam mulai berkembang masih tetap bertahan, bahkan sampai sekarang. Beberapa sumber menghubungkan kata wayang dengan hyang, artinya leluhur atau nenek moyang. Wayang disebut juga ringgit. Apa artinya? Ada yang mengatakan ringgit artinya ledhek (bahasa Jawa), yaitu penari wanita. Rassers mengatakan kata ringgit berasal dari kata rungkut (tempat tersembunyi). Sebab wayang dimainkan di tempat yang tersembunyi di hutan di bawah pepohonan. Hal ini ada hubungannya dengan upacara inisiasi. Namun, sampai sekarang belum ada keterangan yang memuaskan tentang arti dan asal kata wayang.

Peninggalan Nonfisik

Peninggalan nonfisik adalah peninggalan yang tidak berwujud kebendaan, tetapi berupa adat istiadat atau hal lainnya yang menjadi kebiasaan turun- temurun dan selalu dilaksanakan dalam kehidupan.

a. Sekaten

Peninggalan sejarah yang bercorak Islam dalam bentuk seni pertunjukan adalah perayaan Garebek Besar dan Garebek Maulud (perayaan Sekaten). Perayaan Garebek Besar dan Garebek Maulud dilakukan di Demak, Surakarta, Yogyakarta, Cirebon, Banten, dan Aceh. Di Yogyakarta, Surakarta, dan Cirebon perayaan Maulud disebut Sekaten.

Istilah sekaten berasal dari kata syahadatain, pengakuan percaya kepada ajaran agama Islam, tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasul-Nya. Sekaten diperkenalkan oleh Raden Patah di Demak pada abad ke-16. Pada saat itu orang Jawa beralih memeluk agama Islam dengan mengucapkan shahadatain. Oleh karena itu, penggunaan nama sekaten pada perayaan tersebut menjadi terkenal. Perayaan Sekaten kemudian diteruskan oleh sultan-sultan berikutnya sehingga menjadi perayaan tahunan. Pada perayaan ini seluruh pusaka kerajaan Yogyakarta dan Surakarta dibersihkan dalam upacara penyucian khusus. Selain itu, sultan membagikan berkah berupa lima jenis nasi yang dibentuk seperti gunung. Kelima macam nasi tersebut mewakili jagad atau dunia orang Jawa. Dari peninggalan budaya Sekaten, cobalah cari dan sebutkan bagian-bagian yang merupakan bentuk budaya lokal, Hindu–Buddha dan Islam!

b. Ziarah ke Makam

Ziarah bagi sebagian masyarakat Indonesia sudah menjadi tradisi. Ziarah berasal dari bahasa Arab, artinya mengunjungi. Istilah ziarah disebut juga dengan sowan (mengunjungi) dan nyekar (meletakkan bunga di atas makam).

Ziarah biasanya dilakukan di makam keluarga, makam wali, makam tokoh penting agama, makam raja, atau di makam tokoh penting masyarakat lainnya. Orang melakukan ziarah dengan tujuan berbeda-beda, misalnya untuk mendapatkan anugerah dengan memuja roh nenek moyang, mensyukuri kebesaran Tuhan, mengingatkan tentang akhirat, menghormati orang yang telah meninggal, atau melanggengkan hubungan antara orang hidup dan yang telah mati. Tradisi ziarah dipengaruhi oleh kebudayaan Indonesia lama (kebudayaan lokal) dan kebudayaan Hindu–Buddha berupa tradisi pemujaan terhadap arwah nenek moyang.
Percampuran Kebudayaan Hindu–Buddha dan Islam Rating: 4.5 Diposkan Oleh: al bathn