Percampuran Kebudayaan Hindu–Buddha dan Islam dalam Seni Bangunan dan Seni Rupa

Jumat, 16 Januari 2015

Percampuran Kebudayaan Hindu–Buddha dan Islam dalam Seni Bangunan dan Seni Rupa

Seni Bangunan

Bentuk bagunan yang merupakan hasil perpaduan Islam dengan budaya setempat, antara lain sebagai berikut.

1) Makam

Di beberapa daerah di Indonesia, upacara kematian menurut agama Islam ternyata masih dipengaruhi unsur-unsur kebudayaan Hindu. Untuk orang yang sudah meninggal diadakan upacara peringatan hari ke-3, ke-7, ke-40, ke-100, dan ke-1.000 yang merupakan wujud lain upacara Sraddha pada agama Hindu. Pada upacara peringatan kematian terakhir (hari ke-1.000), makam diabadikan dengan bangunan batu yang disebut jirat atau kijing. Keluarga yang mampu adakalanya mendirikan bangunan rumah di atas jirat yang disebut cungkup atau kubah.

Pengabadian makam berwujud cungkup dalam zaman Islam tidak berbeda dengan pengabadian makam berwujud candi dalam zaman Hindu. Pada zaman Hindu dan Islam makam dianggap tempat tinggal terakhir yang abadi. Oleh karena itu, makam dibangun sesuai dengan kedudukan orang yang dimakamkan semasa hidupnya. Makam raja pun dibangun seperti istana.

Dalam perkembangan Islam, pada umumnya makam dibangun di atas bukit. Makam raja, wali, dan tokoh penting masyarakat lain disusun berundak-undak. Makin tinggi kedudukan seseorang makin tinggi juga tempat pemakamannya. Makam orang tertinggi atau terpenting berada di tempat tertinggi. Makam demikian itu mengingatkan kita pada punden berundak zaman Prasejarah dan bangunan candi pada zaman Hindu.

Makam raja atau wali pada umumnya merupakan sebuah kompleks pemakaman yang sangat luas. Kompleks pemakaman tersebut seringkali dikelilingi oleh dinding tembok. Menariknya, dinding-dinding kompleks makam tersebut masih dihiasi dengan ukiran atau pahatan bercorak Hindu. Hal itu terlihat terutama pada gapura yang berbentuk candi bentar atau kori agung. Bahkan, cara penempatannya masih seperti penempatan gapura pada candi atau pura di Bali, yakni kori agung untuk pintu terpenting menuju ke belakang dan candi bentar untuk bagian luar.

Bentuk cungkup bervariasi, ada yang berbentuk rumah biasa, joglo tanpa dinding, dan rumah adat daerah.
Di Sulawesi Selatan, makam raja-raja Gowa dan Tallo diberi cungkup yang disebut kubang berbentuk jirat yang kadangkala lengkap dengan nisannya. Kubang kadang-kadang dibuat bersusun dengan alas berbentuk kubus. Bagian depannya diberi lubang yang hanya cukup untuk orang merangkak. Di dalam kubang itu barulah terdapat jirat dengan batu nisannya. Cungkup berbentuk seperti jirat itu yang disebut jirat semu.

Dalam agama Islam dikenal kunjungan ke makam yang disebut ziarah. Kunjungan ini untuk mensyukuri kebesaran Tuhan dan mengingatkan kita pada akhirat. Namun, di Indonesia ziarah juga dilakukan untuk pemujaan roh nenek moyang. Pemujaan roh nenek moyang dalam ziarah itu jelas merupakan kebiasaan yang berlaku dalam kebudayaan Indonesia–Hindu.

Pemujaan roh nenek moyang dilakukan di makam keluarga. Makam wali, makam tokoh penting agama, makam raja, dan makam tokoh masyarakat lainnya menjadi tempat ziarah istimewa. Ada juga orang berziarah ke makam untuk minta berkah, kekayaan, kenaikan pangkat, dan keberuntungan lainnya. Makam demikian itu disebut makam keramat.

Seseorang yang berziarah ke makam keramat wajib menuruti peraturan tertentu, berbeda dengan peraturan berziarah di makam umum. Di makam keramat, peziarah tidak boleh berbicara sembarangan, bertingkah tidak sopan, dan melakukan perbuatan terlarang. Semua harus berjalan tertib. Kekeliruan atau kesalahan yang dilakukan oleh peziarah akan mendatangkan kutukan dan malapetaka baginya.

Melanjutkan tradisi kebudayaan Hindu, desa tempat makam keramat dibebaskan dari pajak. Namun, penduduk desa berkewajiban merawat makam keramat tersebut. Desa semacam itu disebut desa perdikan, desa pekuncen, atau tanah perdikan. Pengurus dan perawat makam raja-raja keturunan Raja Mataram Islam di Imogiri, Yogyakarta yang jumlahnya cukup banyak dijadikan pegawai keraton dan mendapat gaji.

Jirat yang ditemukan di Indonesia terdiri atas buatan Indonesia dan buatan luar negeri. Jirat yang didatangkan dari luar negeri diduga berasal dari Gujarat, India. Jirat dari Gujarat banyak ditemukan di Aceh. Pada sisi belakang beberapa jirat terpahat relief yang sama dengan relief pada candi-candi Hindu di Gujarat. Agaknya jirat juga merupakan barang dagangan dari India dan Asia Barat.

Makam-makam zaman perkembangan Islam di Indonesia, antara lain Makam Maulana Malik Ibrahim di Gresik, Jawa Timur, makam raja-raja Samudera Pasai di Aceh, Makam Sunan Gunung Jati di Cirebon, Jawa Barat, Makam Sunan Tembayat di Klaten, Jawa Tengah, makam raja-raja keturunan Mataram di Imogiri, Yogyakarta, Kompleks Makam Sultan Hasanuddin di Gowa, Sulawesi Selatan, makam para wali yang tersebar di berbagai daerah di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

2) Masjid

Masjid adalah tempat ibadah umat Islam. Bangunan tempat ibadah yang lebih kecil dan sederhana disebut langgar atau surau.
Ruang utama masjid atau surau pada umumnya berbentuk bujur sangkar dengan sebuah serambi yang cukup luas. Akan tetapi, seringkali serambi dibangun pula di kiri–kanan ruang utama. Di dinding sisi barat, dibuat sebuah ceruk cukup lebar dan tinggi yang disebut mihrab, tempat imam memimpin salat. Mihrab di Indonesia selalu terdapat di sebelah barat karena bangunan masjid selalu menghadap ke timur.

Bangunan masjid di Indonesia pada zaman Madya mempunyai ciri khusus pada atapnya. Atap masjid pada zaman Madya umumnya bertingkat dengan jumlah gasal, tiga, atau lima. Atap bertingkat itu disebut atap tumpang. Atap semacam itu mengingatkan kita pada bangunan meru di Bali, tempat suci pada pura. Pada relief-relief candi Jawa Timur pun terdapat gambar-gambar atap tumpang, walaupun sampai kini, bangunan atap tumpang yang dibuat pada zaman Kuno belum ditemukan. Mungkin bangunan dengan atap tumpang tersebut dibuat dari kayu atau bambu yang mudah hancur.

Pada surau tidak ada atap tumpang, tetapi berbentuk limas yang bagian atasnya sangat lancip. Kadang-kadang pada puncaknya diberi penutup kecil dari tanah bakar atau benda-benda lain. Penutup puncak surau itu disebut mustaka. Pada zaman Madya, tidak banyak masjid yang mempunyai menara sebagai tempat muadzin menyerukan azan. Di zaman Madya, masjid bermenara hanya ada dua buah, yaitu Masjid Kudus dan Masjid Banten. Menara Masjid Kudus berbentuk candi gaya Jawa Timur dan atapnya berbentuk tumpang. Menara Masjid Banten bergaya Eropa dan mirip mercusuar.

Seni Rupa

Di dalam ajaran Islam terdapat larangan melukiskan makhluk hidup. Hal ini ditaati benar di Indonesia. Dalam seni rupa Indonesia zaman Madya, hampir tidak ada seni pahat patung seperti yang telah berkembang pada zaman Kuno. Ragam hias pada zaman Madya terpengaruh oleh ragam hias zaman Kuno. Hampir semua pola ragam hias zaman Kuno digunakan untuk ragam hias bangunan zaman Madya.

Ragam hias zaman Madya terdiri atas pola daun-daun, bunga (terutama teratai), sulur-suluran, pemandangan, dan geometris. Bahkan, sering dijumpai pola kalamakara. Kadangkala kepala makara diganti pola kepala kijang yang disebut kalamarga. Walau tidak sesuai dengan peraturan agama Islam, ternyata pola naga dan ular masih dijumpai dalam ragam hias zaman Madya. Pola binatang dan manusia ternyata tidak lenyap sama sekali. Namun, dalam pemahatannya, pola binatang dan manusia disamarkan sedemikian rupa di sekitar ragam hias yang lain sehingga tidak khusus menggambarkan binatang atau manusia dengan nyata.
Sesuai dengan peraturan agama Islam, masjid pada zaman Madya dibuat sederhana, hampir tidak ada hiasan sama sekali. Hanya mimbarnya saja yang diukir indah. Hanya ada satu masjid yang dihias dengan berukir bunga, daun, dan sulur-sulur, yaitu Masjid Mantingan di Jepara, Jawa Tengah.

Apabila kita mengunjungi sebuah keraton, kita akan melihat seni ukir yang sangat indah. Pada umumnya, seni ukir di keraton kita dapatkan pada bangunan yang dibuat dari kayu, walaupun bangunan dari bata pun sebagian dipahat dengan gambar berbagai macam bentuk. Ukiran pada tiang, atap, dan dinding kayu bergambar bunga, daun, awan, dan sulur-sulur dan biasanya diberi warna kuning emas, merah, dan hijau. Pahatan pada dinding bata bergambar bunga, daun, sulur-suluran, dan awan. Di atas gapura beberapa keraton sering dijumpai pahatan kala atau ular naga, disertai huruf Jawa Kuno yang menerangkan tahun pembuatan keraton itu. Pahatan dinding ada yang diberi tata warna indah, tetapi ada pula yang tidak diberi tata warna sama sekali.

Walaupun di keraton kita dapatkan seni hias yang indah, ternyata ragam hias yang paling menonjol pada zaman Madya terdapat dalam bangunan makam. Rupa-rupanya pada bangunan makam bakat seni masyarakat zaman Madya tertuang dengan bebas. Seni hias pada makam tidak hanya terdapat pada jirat dan nisannya, tetapi juga pada cungkup, bahkan pada pintu masuk ke makam. Selain ragam hias, biasanya pada batu nisan makam dipahatkan pula tulisan dan angka tahun sebagai peringatan orang yang dimakamkan. Bahkan, seringkali terdapat kata-kata atau syair yang indah. Contoh syair yang indah terdapat pada nisan makam di Minye Tujoh, Aceh, berangka tahun 1380. Makam ini adalah makam seorang putri yang tidak dicantumkan namanya.

Pada beberapa makam raja atau wali, jirat dikelilingi penyekat kayu yang disebut rana dengan diukir indah sepenuh bidang. Ukirannya ada yang berlubang-lubang. Ukiran yang berlubang-lubang disebut ukiran kerawang. Selain di dalam makam, rana dari batu kita temukan di depan makam tanpa cungkup, atau di balik gapura masuk ke makam atau kompleks makam. Rana batu ini ada yang tanpa pahatan, ada yang dipahat penuh, dan ada pula yang dipahat kerawang. Di Madura, rana batu di depan makam disebut gunungan, berbentuk seperti gunungan pada wayang kulit.

Ukiran rana, tiang, dan atap makam biasanya juga diberi warna dengan cat kuning emas, merah, dan hijau.
Gapura makam pada umumnya juga dipahat dengan berbagai gambar, ada yang sederhana, ada yang indah. Gapura Makam Sunan Tembayat di selatan kota Klaten dibangun mirip candi bentar lengkap dengan hiasan sederhana. Gapura Makam Sendang Duwur, Tuban, dibangun seperti kori agung dengan seni hias sangat indah, terdiri atas sulur-suluran, pintu gerbang tertutup, awan, sayap-sayap, kalamarga ular, dan gunung-gunung karang.

1) Relief

Telah kita ketahui bahwa di dalam ajaran Islam tidak dibenarkan menggambarkan manusia dan binatang dalam bentuk apa pun. Dengan demikian, relief yang hidup subur pada zaman Kuno, pada zaman Madya hampir tidak ada sama sekali.

Gambar manusia dan binatang yang disamarkan dalam pahatan ragam hias tumbuhan atau bahkan lukisan alam apabila dapat disebut relief maka pada zaman Madya terdapat beberapa relief semacam itu. Relief semacam itu bukan cerita, tetapi merupakan fragmen singkat sebuah cerita. Misalnya, gambar Bima bertarung melawan seekor ular di tengah laut. Relief tersebut merupakan fragmen lakon wayang Dewaruci, cerita carangan yang diambil dari kisah Mahabarata. Di Masjid Mantingan terdapat relief seekor kera yang disamarkan. Relief itu mungkin menggambarkan salah satu episode cerita Ramayana, adegan Hanoman bersembunyi di sebatang pohon di Tamansari Alengka dalam usaha menemui Dewi Sinta, istri Rama.

2) Kaligrafi

Perkembangan kebudayaan pada zaman Madya tidak begitu menonjol karena sebagian besar kebudayaannya merupakan kelanjutan kebudayaan zaman Kuno yang disesuaikan dengan kaidah-kaidah agama Islam. Kebudayaan yang berkembang, khususnya kesenian khas zaman Madya adalah seni kaligrafi. Kata kaligrafi berasal dari bahasa Yunani “kallos” yang berarti keindahan dan “grapheir” yang berarti tulisan. Kaligrafi berarti seni menulis indah. Pada zaman Madya, kaligrafi merupakan komposisi huruf-huruf Arab yang biasanya berupa rangkaian ayat-ayat Al-Qur’an sedemikian rupa hingga kalau dilihat sepintas hanya merupakan gambar atau ukiran suatu tokoh, binatang, atau bentuk-bentuk lukisan yang lain. Seringkali kaligrafi meng- gambarkan tokoh wayang.

Kaligrafi pada zaman Madya kita temui pada beberapa nisan, dan ukir- ukiran kayu di beberapa keraton, misalnya Keraton Kasepuhan dan Kanoman di Cirebon.
Percampuran Kebudayaan Hindu–Buddha dan Islam dalam Seni Bangunan dan Seni Rupa Rating: 4.5 Diposkan Oleh: al bathn