Kerajaan Mataram Islam

Sabtu, 17 Januari 2015

Kerajaan Mataram Islam

Pada waktu Sultan Hadiwijaya berkuasa di Pajang, Ki Ageng Pemanahan dilantik menjadi bupati di Mataram sebagai imbalan atas keberhasilannya membantu menumpas Aria Penangsang. Sutawijaya, putra Ki Ageng Pemanahan diambil anak angkat oleh Sultan Hadiwijaya. Setelah Ki Ageng Pemanahan wafat pada tahun 1575, Sutawijaya diangkat menjadi bupati di Mataram.

Sutawijaya ternyata tidak puas menjadi bupati dan ingin menjadi raja yang menguasai seluruh Jawa. Oleh karena itu, Sutawijaya mulai memperkuat sistem pertahanan Mataram. Hal itu ternyata diketahui oleh Hadiwijaya sehingga ia mengirim pasukan untuk menyerang Mataram. Peperangan sengit terjadi pada tahun 1582. Prajurit Pajang menderita kekalahan. Keadaan Sultan Hadiwijaya sendiri pada saat itu sedang sakit. Beberapa waktu kemudian Sultan Hadiwijaya mangkat. Setelah itu, terjadilah perebutan kekuasaan di antara para bangsawan Pajang. Pangeran Pangiri (menantu Hadiwijaya yang menjabat Bupati Demak) datang menyerbu Pajang untuk merebut takhta. Hal itu tentu saja ditentang keras oleh para bangsawan Pajang yang bekerja sama dengan Sutawijaya, Bupati Mataram. Akhirnya, Pangeran Pangiri beserta pengikutnya dapat dikalahkan dan diusir dari Pajang.

Setelah suasana aman, Pangeran Benawa (putra Hadiwijaya) menyerahkan takhtanya kepada Sutawijaya yang kemudian memindahkan pusat pemerintahannya ke Mataram pada tahun 1586. Sejak saat itu berdirilah Kerajaan Mataram.

a. Bidang Politik

1) Sutawijaya
Sutawijaya setelah naik takhta bergelar Panembahan Senapati Ing Alaga Sayidin Panatagama. Pangeran Benawa yang dengan sukarela menyerahkan kekuasaannya kepada Sutawijaya diangkat menjadi Bupati Pajang. Pemerintahan Sutawijaya atau sering disebut Senapati ternyata banyak menghadapi rintangan. Para bupati di pantai utara Jawa yang dahulu tunduk kepada Demak dan Pajang memberontak ingin lepas dan menjadi kerajaan merdeka. Pusat perlawanan terhadap Mataram adalah Demak, Jepara, Kudus, Pajang, Gresik, dan Surabaya yang menghimpun kekuatan dari Kediri, Madiun, dan Ponorogo. Akan tetapi, Senapati terus berusaha menundukkan bupati-bupati yang menentangnya. Pada akhir masa pemerintahannya (1601), Mataram telah berhasil meletakkan landasan kekuasaannya mulai dari Galuh (Jawa Barat) sampai Pasuruan di Jawa Timur.

2) Mas Jolang
Setelah Senapati wafat diganti oleh putranya, Mas Jolang. Pada masa pemerintahan Mas Jolang, benturan antara daerah pesisir dan Mataram terus berlangsung. Bahkan, makin banyak bupati pesisir yang memberontak terhadap Mataram. Masa pemerintahan Mas Jolang diwarnai dengan peperangan yang melelahkan terhadap para pemberontak sehingga tidak mampu memperluas wilayahnya hingga mangkat pada tahun 1613.

3) Mas Rangsang (Sultan Agung)
Pengganti Mas Jolang adalah putranya, Mas Rangsang. Setelah naik takhta, Mas Rangsang bergelar Sultan Agung Senapati Ing Alaga Ngabdurahman Kalifatullah. Mas Rangsang adalah Raja Mataram pertama yang berani menggunakan gelar sultan. Hal itu sebagai lambang keberanian dan kebesaran jiwanya dalam menghadapi segala rintangan untuk melanjutkan cita-cita Panembahan Senapati.

Rintangan yang harus dihadapi Sultan Agung itu ada tiga golongan, antara lain:
  1. para bupati yang tidak mau tunduk kepada Mataram, seperti Bupati Pati, Lasem, Tuban, Surabaya, Madura, Blora, Madiun, dan Bojonegoro
  2. Kerajaan Cirebon dan Banten (di Jawa Barat)
  3. VOC di Batavia.

Untuk menundukkan rintangan itu, Sultan Agung mempersiapkan sejumlah besar pasukan, persenjataan, dan armada laut serta penggemblengan fisik dan mental. Persiapan itu memakan waktu dua tahun. Mulai tahun 1615, Sultan Agung mulai menggempur pertahanan para bupati daerah pesisir. Satu demi satu daerah, seperti Semarang, Jepara, Demak, Lasem, Tuban, dan Madura dapat ditundukkan Mataram. Daerah pedalaman, seperti Madiun, Ponorogo, Blora, dan Bojonegoro pun tunduk kepada Mataram. Perlawanan itu telah memakan waktu sembilan tahun, tetapi Surabaya belum berhasil ditundukkan.

Mataram kemudian mengirimkan sejumlah besar prajurit (80.000 orang) ke Surabaya. Surabaya dikepung dari darat dan laut, Sungai Brantas dibendung dan airnya dialirkan ke arah lain. Mayat-mayat dibuang ke sembarang tempat. Akibatnya, kota Surabaya dilanda kelaparan, kekurangan air, dan wabah penyakit yang dahsyat sehingga pertahanan rakyat Surabaya lumpuh (1625). Pada tahun itu pula Surabaya takluk kepada Mataram.

Setelah Surabaya jatuh, Sultan Agung menjadi raja seluruh Jawa, kecuali Banten, Batavia, Cirebon, dan Blambangan. Sultan Agung mencoba merebut Batavia dari tangan Belanda pada tahun 1628 dan 1629. Namun, usaha Sultan Agung mengalami kegagalan.

Prestasi besar yang dicapai Sultan Agung, antara lain:
  1. memperluas daerah kekuasaannya hingga meliputi Jawa, Madura (kecuali Banten dan Batavia), Palembang, Jambi, dan Banjarmasin;
  2. mengatur dan mengawasi wilayahnya yang luas itu langsung dari pemerintahan pusat (Kotagede);
  3. melakukan kegiatan ekonomi yang bercorak agraris dan maritim sehingga Mataram menjadi pengekspor beras terbesar pada masa itu;
  4. melakukan mobilisasi militer secara besar-besaran sehingga mampu menundukkan daerah-daerah sepanjang pantai utara Jawa dan mampu menyerang Belanda di Batavia sampai dua kali;
  5. mengubah perhitungan tahun Jawa Hindu (Saka) dengan tahun Islam (Hijrah) yang berdasarkan peredaran bulan (sejak tahun 1633);
  6. menyusun karya sastra yang cukup terkenal yang disebut kitab Sastra Gending; dan
  7. menyusun kitab undang-undang baru yang merupakan perpaduan dari hukum Islam dengan adat-istiadat Jawa yang disebut Hukum Surya Alam.

b. Bidang Sosial

Dalam pemerintahan Kerajaan Mataram Islam, raja merupakan pemegang kekuatan tertinggi, kemudian diikuti oleh sejumlah pejabat kerajaan yang diserahi tugas-tugas tertentu. Kebesaran kerajaan dan kewibawaan raja lazim dicerminkan dalam keraton sebagai kompleks bangunan kediaman raja, seperti sitinggil dan masjid besar. Kesenian yang ada di kerajaan mempunyai fungsi untuk melambangkan status raja. Segala benda di sekeliling raja, upacara, dan perayaan-perayaan, selain mempunyai fungsi sakral-magis juga dapat menambah semarak suasana kerajaan dengan segala keagungannya.

Di bidang keagamaan terdapat jabatan penghulu, ketib, naib, dan suranata. Pejabat-pejabat keagamaan ini disebut abdi dalam pametakan atau abdi dalem pemutihan . Penghulu istana merupakan jabatan tertinggi dalam bidang keagamaan. Tugas penghulu istana adalah memimpin upacara-upacara keagamaan.

Di bidang pengadilan, dalam istana terdapat jabatan jaksa . Jabatan ini merupakan wewenang wedana-wedana keparak. Di dalam sidang pengadilan istana, jaksa berhak mengemukakan bukti dan mengajukan tuntutan, sedangkan yang berhak mengadili adalah raja. Pejabat-pejabat kerajaan, seperti wedana dan bupati tidak mendapat imbalan berupa gaji, tetapi mendapat hak tanah gaduhan sebagai tanah lungguh . Dari hasil tanah tersebut para pejabat menggunakan sebagai biaya keperluan hidupnya, sedangkan sebagian hasilnya harus diserahkan kepada kas kerajaan.

Untuk menciptakan ketertiban di seluruh kerajaan diciptakan peraturan yang dinamakan angger-angger yang harus ditaati oleh seluruh penduduk.

c. Bidang Ekonomi

Letak geografisnya yang berada di pedalaman didukung tanah yang subur, menjadikan kerajaan Mataram sebagai daerah pertanian (agraris) yang cukup berkembang, bahkan menjadi daerah pengekspor beras terbesar pada masa itu. Rakyat Mataram juga banyak melakukan aktivitas perdagangan laut. Hal ini dapat terlihat dari dikuasainya daerah-daerah pelabuhan di sepanjang pantai Utara Jawa.

Perpaduan dua unsur ekonomi, yaitu agraris dan maritim mampu menjadikan kerajaan Mataram kuat dalam percaturan politik di nusantara.

Pada kerajaan Mataram sudah ada upaya untuk menegakkan keadilan dengan mendirikan pengadilan yang berkedudukan dalam istana dengan nama jaksa . Jabatan ini merupakan wewenang wedana-wedana keparak. Di dalam sidang pengadilan istana, jaksa berhak mengemukakan bukti dan mengajukan tuntutan, sedangkan yang berhak mengadili adalah raja. Selain itu untuk menciptakan ketertiban di seluruh kerajaan diciptakan peraturan yang dinamakan angger-angger yang harus ditaati oleh seluruh penduduk.
Kerajaan Mataram Islam Rating: 4.5 Diposkan Oleh: al bathn