Keadaan Bahasa, Dialek dan Tradisi Lisan

Kamis, 29 Januari 2015

Keadaan Bahasa, Dialek dan Tradisi Lisan

Di mana ada masyarakat di situ ada bahasa. Setiap masyarakat pasti memiliki bahasa. Suku bangsa adalah salah satu contoh masyarakat. Menurut Koentjaraningrat (1999), jumlah suku bangsa Indonesia menurut Zulyani Hidayah ada sebanyak 656, sedangkan menurut J.M. Melalatoa ada sebanyak 500. Bila kita asumsikan setiap satu suku bangsa Indonesia memiliki satu bahasa, maka jumlah bahasa yang ada di Indonesia berkisar antara 500 sampai dengan 656 bahasa. Perkiraan itu membawa kita pada satu kesimpulan bahwa keadaan bahasa di Indonesia sangat beragam.

Persebaran bahasa-bahasa kesukuan di Indonesia tidaklah sama. Ada bahasa suku yang memiliki persebaran cukup luas karena penyebaran penuturnya yang sangat luas dan terus berkembang. Ada juga bahasa suku yang memiliki persebaran tidak luas juga dikarenakan penyebaran penuturnya yang sangat terbatas. Program pembangunan juga turut mempengaruhi penyebaran bahasa suku, salah satu contohnya adalah transmigrasi. Hal ini semakin mempersulit untuk menentukan secara pasti persebaran suatu bahasa suku.

Kebanyakan orang Indonesia dapat menuturkan dua bahasa. Sering menukar penggunaan bahasa Indonesia, bahasa nasional, dengan (sedikitnya) satu bahasa daerah atau bahasa suku bangsa. Bahasa Nasional dianggap sebagai bahasa resmi, untuk digunakan di sekolah atau di pertemuan resmi. Ada banyak kecualian, tentu saja termasuk upacara dan pertunjukan bahasa daerah harus digunakan. Penggunaan bahasa daerah dipihak lain, lebih sering merupakan norma pada situasi tidak resmi, seperti di rumah dan di dalam urusan antaranggota sesama kelompok suku bangsa. Bahasa Indonesia bukanlah bahasa pertama dari setiap masyarakat suku bangsa Indonesia. Itulah sebabnya ada penggunaan bahasa daerah di sekolah negeri hingga kelas 3 SD (Indonesia Heritage, jilid 10, 2002).

Setiap orang dalam masyarakat bahasa di Indonesia dapat menunjukkan sedikitnya tiga tingkat interaksi linguistik, Yaitu:
  1. Tingkat suku bangsa, yaitu penggunaan bahasa dalam kelompok bahasa suku bangsa tertentu, misalnya antara sesama orang Melayu, Riau, Ambon, Sunda, Batak, Bugis, Jawa, dan sebagainya.
  2. Tingkat antarsuku bangsa, yaitu penggunaan bahasa di antara masyarakat kelompok sukubangsa yang berbeda. Misalnya percakapan antara orang Batak dengan orang Sunda, orang Ambon dengan orang Jawa, orang Minangkabau dengan orang Bugis, dan sebagainya. Tidak selalu mereka menggunakan bahasa Indonesia, mungkin mereka menggunakan bahasa tertentu yang dapat mereka mengerti.
  3. Tingkat nasional, yaitu penggunaan bahasa pada tingkat nasional, tentu dengan menggunakan bahasa Indonesia. Hal ini sangat nampak pada acara-acara resmi dan keagamaan pada tingkat nasional serta di dunia pendidikan.

Pada hierarki ini, bahasa Melayu salah satu bahasa daerah berkedudukan unggul, karena penjelmaannya di tingkat nasional sebagai bahasa Indonesia, bahasa nasional. (Indonesiam Heritage, Jilid 10, 2002).

Bahasa Melayu adalah salah satu bahasa daerah yang memiliki wilayah persebaran yang cukup luas. Ada bahasa Melayu Riau, bahasa Melayu Jambi, dan bahasa Melayu Langkat. Demikian juga halnya dengan bahasa Jawa, ada bahasa Jawa Surakarta, bahasa Jawa Banyumas, dan bahasa Jawa Surabaya. Kondisi yang sama kemungkinan besar akan ditemukan pada bahasa daerah lainnya. Apakah yang membedakan bahasa Melayu Langkat dengan Melayu Riau? Apakah yang membedakan bahasa Jawa Surakarta dengan bahasa Jawa Banyumas? Yang membedakan adalah variasi mereka dalam mengucapkannya yang pada akhirnya melahirkan logat, dialek atau aksen bahasa. Satu bahasa daerah (bahasa suku bangsa) sangat mungkin memiliki beberapa dialek. Dengan demikian, jumlah dialek sudah pasti lebih banyak daripada jumlah bahasa yang ada di Indonesia. Keberadaan dialek memperjelas teori yang menyatakan bahwa bahasa amat erat hubungannya dengan keadaan alam, suku bangsa, dan keadaan politik di daerah-daerah yang bersangkutan.

Variasi berbahasa, dialek, logat atau aksen dimiliki setiap orang, bahkan tanpa disadari melekat dalam diri setiap orang dan nampak ketika mengucapkan kata-kata dalam bahasa daerah ataupun bahasa nasional. Bahasa nasional adalah bahasa Indonesia, tetapi cara-cara setiap suku bangsa Indonesia dibedakan oleh aksen, logat atau dialek. Dialek orang Ambon menggunakan bahasa Indonesia sangat berbeda dengan orang Jawa, Madura, Mingkabau, Batak, Melayu, dan sebagainya. Bahkan bagi orang-orang yang sudah mengenal berbagai suku bangsa Indonesia, dari dialeknya mengucapkan kata-kata dalam bahasa Indonesia, dapat mengetahui asal – usul daerah dan suku bangsanya.

Dimanakah kita dapat mendengar dan mengetahui bahasa dan dialek dari masyarakat bahasa (suku bangsa) yang ada di Indonesia? Kita dapat mengetahui dan mendengar pada percakapan dari masyarakat bahasa yang bersangkutan. Kita dapat mengetahui dan mendengarnya melalui tradisi lisan yang ada pada setiap masyarakat bahasa (suku bangsa) yang ada di Indonesia. Bila kita ingin mengetahui dan mendengar bahasa dan dialek bahasa Jawa, kita dapat mewujudkan melalui tradisi lisan masyarakat Jawa, di antaranya wayang kulit. Wayang kulit adalah teater boneka bayang-bayang Indonesia. Kumpulan lakonnya banyak bersumber dari legenda dan kisah lisan sastra dari tradisi India dan Jawa. Wayang kulit disukai di Bali, Sumatera Selatan dan Jawa Barat, namun Jawa Tengah dianggap sebagai tempat asal bentuk teater ini. Bila kita ingin mengetahui dan mendengar bahasa dan dialek Melayu Riau, kita dapat mewujudkannya melalui tradisi lisan masyarakat Melayu Riau, yaitu Mak Yong. Aslinya Mak Yong dipertunjukkan bagi kelas atas di istana sultan, khususnya di Kelantan (sekarang Malaysia bagian timur laut) dan Raiu-Lingga, jantung peradaban Melayu hingga tahu 1700-an. Fungsi Mak Yong memberi penghormatan kepada Yang Mahakuasa. Sultan dan isterinya merupakan wakil Tuhan di bumi. Pertunjukan untuk sultan sebenarnya merupakan persembahan kepada Tuhan.

Apakah keterkaitan antara bahasa, dialek dan tradisi lisan? Uraian di atas telah menjelaskannya. Bahasa adalah sistem tanda bunyi yang digunakan manusia dalam berkomunikasi. Setiap orang sangat dipengaruhi oleh letak geografis, politik, ekonomi dan adat istiadat dalam berbahasa, sehingga muncullah dialek dalam berbahasa. Salah satu sarana untuk mengetahui dan mendengar dialek bahasa adalah tradisi lisan. Secara sederhana dapat disimpulkan, bahasa melahirkan dialek yang dipelihara, dikembangkan dan diwariskan melalui tradisi lisan.

Perkembangan suatu bahasa, dialek, dan tradisi lisan dapat menuju kepada dua arah, yaitu menjadi lebih luas daerah pakainya. Bahkan mungkin dapat menjadi bahasa baku, ataupun sebaliknya, yakni malah dapat lenyap sama sekali. Baik perkembangannya yang membaik maupun yang memburuk, semuanya itu selalu kembali kepada faktor-faktor penunjangnya, yaitu apakah itu faktor kebahasaan ataukah faktor luar bahasa. Contoh perkembangan membaik, misalnya saja adalah diangkat dan diakuinya bahasa dan dialek Sunda kota Bandung sebagai bahasa Sunda baku dan bahasa sekolah di Jawa Barat, serta bahasa Jawa kota Surakarta sebagai bahasa baku Jawa dan bahasa sekolah di Jawa Tengah. Contoh perkembangan memburuk, misalnya adalah lenyapnya bahasa dan dialek Sunda di kampung Legok Indramayu, yang sekarang hanya dapat menggunakan bahasa Jawa Cirebonan. Kelenyapan bahasa dan dialek ini sebenarnya merupakan keadaan yang paling buruk yang pernah dialami oleh sesuatu bahasa ataupun dialek.

Perkembangan membaik mungkin terjadi pada bahasa, dialek dan tradisi lisan dengan jumlah penutur di atas 1.000.000 (satu juta orang). Kekhawatiran perkembangan memburuk sangat mungkin terjadi pada bahasa, dialek, dan tradisi lisan dengan jumlah penutur yang sedikit (di bawah satu juta orang) dan diancam bahaya kepunahan. Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan terjadinya perkembangan memburuk suatu bahasa, dialek dan tradisi lisan, antara lain:
a. Adanya susupan bahasa kebangsaan kepada bahasa daerah, dan susupan bahasa kebangsaan dan bahasa baku bahasa daerah ke dalam dialek. Terjadi atau masuknya susupan bahasa ini antara lain dapat melalui berbagai saluran, baik resmi ataupun tidak resmi, seperti:
1) Sekolah atau lembaga pendidikan
2) Saluran budaya
b. Faktor sosial. Tidak dapat dipungkiri bahwa makin baiknya keadaan juga merupakan faktor penunjang bagi membaiknya taraf kehidupan sosial masyarakat. Dengan bertambah baiknya taraf kehidupan sosial tersebut, maka kemungkinan untuk memperoleh pendidikan yang lebih baik, dan memperoleh kedudukan yang lebih baik pun menjadi lebih terbuka pula. Sementara itu, dengan terbukanya kesempatan tersebut, maka banyak pula warga masyarakat yang berusaha serta mencapainya. Pada umumnya, untuk semua itu mereka harus meninggalkan kampung halamannya, dan pergi ke kota yang lebih besar sesuai dengan taraf yang hendak mereka capai sebelumnya. Akan tetapi, di sana mereka harus hidup dalam lingkungan yang mungkin berbeda dengan lingkungan di kampung asalnya masing-masing. Sebagai hasil akhirnya, kalau pun ada di antara mereka yang kembali ke kampung halamannya, namun biasanya mereka tetap mempertahankan cara-cara hidup yang pernah mereka peroleh selama di rantau. Pada taraf bahasa daerah, biasanya mereka akan memperlihatkan pengaruh bahasa kebangsaan dan bahasa asing dalam tuturan (tutur kata) mereka. Pada tingkat dialek, biasanya mereka akan tetap mempergunakan bahasa baku karena sekarang mereka sadar bahwa ternyata dialeknya tidak sebaik bahasa baku.

Di dalam masyarakat Indonesia terdapat berbagai macam dan ragam bahasa, dialek, dan tradisi lisan. Perbedaan-perbedaan tersebut jika tidak dikelola secara baik dapat menimbulkan perpecahan dan konflik. Coba diskusikan dengan teman-teman kalian dan berikan solusi yang tepat supaya potensi kemajemukan budaya tersebut menjadi modal persatuan dan kemajuan bangsa. Setelah itu coba kalian buat organisasi remaja di daerah tempat tinggal kalian yang anggotanya terdiri dari remaja yang berasal dari berbagai daerah dan latar belakang budaya yang berbeda-beda.
Keadaan Bahasa, Dialek dan Tradisi Lisan Rating: 4.5 Diposkan Oleh: al bathn