Asal usul Bahasa Di Indonesia

Kamis, 29 Januari 2015

Asal usul Bahasa Di Indonesia

Bila setiap suku bangsa di Indonesia memiliki bahasa masyarakat sendiri, maka dapat dipastikan bahwa masyarakat memiliki bahasa daerah yang beranekaragam di samping bahasa Indonesia. Tetapi sampai saat ini tidak ada angka pasti mengenai jumlah bahasa yang ada di Indonesia. Indonesian Heritage, jilid 10 (2002) memberi perkiraan bahwa jumlah bahasa daerah Indonesia berkisar antara 69 sampai dengan 578. Telah ada beberapa penelitian terhadap bahasa daerah, diantaranya bahasa kelompok etnis Jawa, Sunda, Madura, Mingkabau, Batak, Bali, Bugis dan Banjar.

Dari manakah asal-usul bahasa Indonesia dan bahasa daerah yang ada di Indonesia? Dari uraian di atas, setidaknya kita sudah memperoleh gambaran yang harus dipertegas, yaitu bahasa Indonesia berasal dari Proto Austronesia dan Proto Indo – Pasifik. Bahasa rumpun Austronesia menyebar menjadi bahasa-bahasa daerah di berbagai wilayah Indonesia. Sementara Proto Indo – Pacifik menyebar menjadi bahasa daerah di Papua. Dengan demikian adapat disimpulkan bahwa bahasa Indonesia dan bahasa – bahasa daerah yang ada di Indonesia berasal dari dua rumpun besar bahasa di dunia, yaitu Proto Austronesia dan Proto Indo – Pasifik.

Darimanakah asal-usul pertama bahasa di dunia ini? Menurut Comrie (2001) yang dikutip oleh Lucy Ruth Montolalu, Muhadjir dan Multamia RMT Kauder dalam buku Pesona Bahasa, Langkah Awal Memahami Lingustik (2005), dari sekitar 6.700 bahasa di dunia, terdapat 17 rumpun bahasa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rumpun bahasa yang tertua di dunia ini adalah bahasa-bahasa Afrika, yaitu Niger-Kordofani, Nilo-Sahara, Khoisan, dan Afro-Asiatika. Dari keempat bahasa tersebut, yang dianggap sebagai bahasa yang tertua adalah bahasa Khoisa. Dengan demikian diperkirakan bahwa kelompok Khoisa adalah keturunan orang pertama yang melakukan ekspansi keluar dari Afrika menuju Asia.

Perkiraan mengenai asal-usul bahasa yang ada di Indonesia dapat dibandingkan dengan keterangan mengenai asal-usul orang Indonesia. Menurut Koenjaraningrat (1999), “Manusia Indonesia yang tertua sudah ada kira-kira satu juta tahun yang lalu, waktu Dataran Sunda masih merupakan daratan, dan waktu Asia Tenggara bagian benua dan bagian kepulauan masih menjadi satu”. Berdasarkan fosil-fosil yang ditemukan, seperti Pithecanthropus Erectus dan Homo Soloensis serta Homo Wajakensis dipastikan bahwa manusia Indonesia tertua berasal dari Australia Selatan dengan ciri-ciri fisik Austro-Melanesoid.

Koenjaraningrat (1999) juga menegaskan, bahwa sebagian penduduk tertua Indonesia ditemukan juga ciri-ciri Mongoloid. Berdasarkan ciri-ciri ini dipastikan bahwa sebagian penduduk tertua Indonesia ada juga yang berasal dari benua Asia. Penyebaran orang dengan ciri-ciri Mongolia ke nusantara menempuh jalan yang sama dengan penyebaran orang-orang yang berciri Austro – Melanoid.

Asal-usul orang Indonesia berasal dari Austro – Melanesoid di benua Australia dan dari orang-orang Mongolia di Benua Asia. Asal-usul bahasa Indonesia terdiri dari dua rumpun besar bahasa, yaitu rumpun Austronesia dan Indo – Pacifik. Masuknya bahasa rumpun Austronesia dibawa oleh orang-orang Austro – Melanesoid yang menyebar dan masuk sampai Indonesia. Masuknya rumpun bahasa Indo – Pacifik dibawa oleh orang-orang Mongolia yang berasal dari Benua Asia dan menyebar sampai Indonesia. Pertanyaan selanjutnya adalah dari manakah asal-usul orang Austro – Melanesoid dan orang Mongolia? Mungkinkah berasal dari Afrika, khususnya orang Khoisa? Kalian sendiri yang harus meneliti dan memastikannya.

Tak ada yang tahu pasti berapa bahasa daerah di Indonesia. Tak ada daftar nama baku untuk bahasa-bahasa itu, tak ada statistik yang mudah di dapat tentang jumlah orang yang menuturkan bahasa tertentu, dan tak ada peta yang memastikan di daerah mana bahasa-bahasa tertentu dituturkan. Sebagian besar penelitian atas bahasa daerah di Indonesia terbatas pada bahasa kelompok etnis besar saja; Jawa, Sunda, Madura, Minangkabau, Batak, Bali, Bugis dan Banjar. Perkiraan jumlah bahasa daerah yang dapat ditemukan di Indonesia berkisar dari angka terendah 69 sampai tertinggi 578 (Indonesian Heritage, jilid 10, 2002). Berikut ini disajikan gambaran beberapa bahasa daerah di Indonesia berdasarkan jumlah penuturnya.

No. Bahasa Daeah Penutur

1. Jawa 75.000.000
2. Melayu 28.000.000
3. Sunda 27.000.000
4. Madura 9.000.000
5. Minangkabau 6.500.000
6. Bali 6.000.000
7. Bugis 3.600.000
8. Banjar 2.100.000
9. Sasak 2.100.000
10. Batak Toba 2.000.000

Untuk memperoleh gambaran umum ditinjau terhadap bahasa daerah di Indonesia, berikut ini disajikan gambaran beberapa bahasa daerah Indonesia, yaitu meliputi:

1. Bahasa Jawa

Menurut Zulyani Hidayah (1999), orang Jawa sering menyebut dirinya Wong Jowo atau Tiang Jawa. Jumlah populasinya paling banyak dibandingkan dengan suku-suku bangsa lain, dan wilayah asal serta wilayah persebarannya di seluruh Indonesia juga paling luas. Pada pembicaraan sehari-hari orang Jawa digunakan bahasa Jawa sebagai bahasa ibu. Menurut Koentjaraningrat (1999), pada waktu mengucapkan bahasa Jawa, seseorang harus memperhatikan dan membeda-bedakan keadaan orang yang diajak berbicara atau yang sedang dibicarakan, berdasarkan usia dan status sosialnya.
Pada waktu mengucapkan bahasa Jawa, seseorang harus memperhatikan dan membeda-bedakan keadaan orang yang diajak berbicara

Menurut Koentjaraningrat (1999), bila ditinjau dari tingkatannya, bahasa Jawa terdiri dari bahasa Jawa Ngoko dan bahasa Jawa Krama. Bahasa Jawa Ngoko dipakai untuk orang yang sudah dikenal akrab, dan terhadap orang yang lebih muda usianya serta lebih rendah derajat atau status sosialnya. Bahasa Jawa Krama dipergunakan untuk bicara dengan orang yang belum dikenal akrab, tetapi yang sebaya dalam umur maupun derajat, dan juga terhadap orang yang lebih tinggi umur serta status sosialnya. Dari kedua macam derajat bahasa ini, timbul berbagai variasi dan kombinasi dalam bahasa Jawa, yang terletak di antara bahasa Jawa Ngoko dan Bahasa Krama, yaitu bahasa Jawa Madya Ngoko, bahasa Jawa Madya antara dan Bahasa Jawa Madya Krama. Jenis lainnya dari bahasa Jawa adalah bahasa Krama Inggil, terdiri dari 300 kata-kata yang dipakai untuk menyebut nama-nama anggota badan, aktivitas, benda milik, sifat-sifat dan emosi-emosi dari orang-orang yang lebih tua umur atau lebih tinggi derajat sosial. Jenis lainnya lagi adalah Kedaton (atau bahasa Bagongan) yang khusus dipergunakan di kalangan istana. Jenis lainnya adalah bahasa Jawa Krama Desa atau bahasa orang-orang di desa-desa. Akhirnya bahasa Jawa Kasar yakni salah satu macam bahasa daerah yang diucapkan oleh orang-orang yang sedang dalam keadaan marah atau mengumpat seseorang.

2. Bahasa Bali

Suku bangsa Bali atau Bali Hindu mendiami Pulau Bali yang sekarang menjadi sebuah propinsi dengan delapan buah kabupaten. Pulau yang terdiri dari dataran rendah dikelilingi bagian pesisir dan daerah perbukitan serta pengunungan di bagian Tengah. Suku bangsa Bali menggunakan bahasa Bali dalam percakapan sehari-hari. Bahasa Bali terdiri dari beberapa dialek, yaitu dialek Buleleng, Karangasem, Klungkung, Bangli, Gianyar, Badung, Tabanan dan Jembrana. (Zulyani Hidayah, 1999).

Peninggalan-peninggalan prasasti dari zaman Bali–Hindu menunjukkan adanya suatu bahasa Bali Kuno yang agak berbeda dengan bahasa Bali sekarang. Bahasa Bali kuno di samping mengandung banyak kata-kata sansekerta, pada masanya terpengaruh oleh bahasa Jawa Kuno dari zaman Majapahit, ialah zaman di mana pengaruh Jawa besar sekali kepada kebudayaan Bali. Bahasa Bali mengenal apa yang disebut “Perbendaharaan kata-kata hormat”, walaupun tidak sebanyak seperti di dalam bahasa Jawa. Bahasa hormat (basa alus) yang dipakai kalau berbicara dengan orang-orang tua atau tinggi, telah mengalami beberapa perubahan akibat pengaruh modernisasi dan cita-cita demokrasi akhir-akhir ini (Koentjaraningrat, 1999).

3. Bahasa Minangkabau

Daerah asal dari kebudayaan Minangkabau kira-kira seluas daerah propinsi Sumatera Barat sekarang ini, dengan dikurangi daerah kepulauan Mentawai. Umumnya orang Minangkabau mencoba menghubungkan keturunan mereka dengan suatu tempat tertentu, yaitu Par(h)iangan, Padang Panjang. Mereka beranggapan bahwa nenek moyang mereka berpindah dari tempat itu dan kemudian menyebar ke daerah penyebaran yang ada sekarang (Koentjaraningrat, 1999).
Bahasa Bali terdiri dari beberapa dialek, yaitu dialek Bulelang, karangasem, khunglung, bangli, gianyer,badung

Bahasa sehari-hari Mingkabau adalah bahasa Minangkabau. Bahasa Minangkabau termasuk ke dalam rumpun bahasa Melayu Austronesia dengan aturan tata bahasa yang amat dekat dengan bahasa Indonesia, karena itu dekat pula dengan bahasa Melayu Lama yang mendasari bahasa Indonesia. Kata-kata Indonesia dalam bahasa Minangkabau hanya mengalami sedikit perubahan bunyi, seperti tiga menjadi tigo, lurus menjadi luruih, bulat menjadi bulek, empat menjadi ampek, dan sebagainya (Zulyani Hidayah, 1999).

4. Bahasa Bugis

Kebudayaan Bugis adalah kebudayaan dari suku bangsa Bugis – Makasar yang mendiami bagian terbesar dari Jazirah selatan dari Pulau Sulawesi. Jazirah itu merupakan suatu propinsi, yaitu propinsi Sulawesi Selatan. Penduduk Propinsi Sulawesi Selatan terdiri dari empat suku bangsa ialah Bugis, Makasar, Toraja dan Mandar. Percakapan sehari-hari orang Bugis menggunakan bahasa Ugi (Koentjaraningrat, 1999).

Orang Bugis sering juga disebut orang Ugi. Bahasa sehari-hari yang digunakan adalah bahasa Ugi atau bahasa Bugi. Menurut ahli etnolinguistik klasik, Esser, Bahasa Bugis sekelompok dengan bahasa-bahasa orang Lawu, Sa’dan, Mandar, Pitu Ulunna Sallu, Makasar dan Seko. Bahasa Bugis terdiri pula atas beberapa dialek, seperti dialek Bone, Soppeng, Luwuk, Wajo, Bulukumba, Sidenreng, Pare-Pare dan lain-lain. Sejak berabad-abad yang lalu orang Bugis telah mengenal tulisan sendiri yang disebut aksara lontarak, yaitu aksara tradisional yang mungkin berasal dari huruf sansekerta yang ditulis di atas daun lontar (daun sejenis palem) (Zulyani Hidayah, 1999).

5. Bahasa Melayu

Bahasa Melayu dapat ditemukan di Jambi, Langkat dan Riau. Masyarakat Jambi menggunakan bahasa Melayu Jambi. Masyarakat Langkat menggunakan bahasa Melayu Langkat dan bahasa Melayu Riau menggunakan bahasa Melayu Riau. Menurut Zulyani Hidayah (1999), Bahasa Melayu yang dipakai di Jambi sangat dekat dengan bahasa Indonesia. Bedanya hanya sedikit, misalnya kata-kata yang berakhiran A dalam bahasa Indonesia, dalam bahasa Melayu Jambi menjadi O, seperti duga menjadi dugo, mata menjadi mato, kemana menjadi kemano, permata menjadi permato, dan seterusnya.

Orang Melayu Langkat mendiami daerah sepanjang pesisir timur pulau Sumatera, mulai dari daerah Langkat di utara sampai ke Labuhan Batu di selatan. Bahasa mereka adalah bahasa Melayu seperti umumnya dikenal orang di sekitar pantai timur Sumatera dan semenanjung Malaysia. Orang Melayu langkat menggunakan bahasa Melayu dialek langkat yang dicirikan dengan pemakaian huruf E pada akhir kalimat. Selain itu, irama (nada) dalam cara berbicaranya juga memiliki ciri khas yang berbeda dengan bahasa Melayu yang digunakan di daerah lain (Zulyani Hidayah, 1999).

Suku bangsa Melayu di Riau adalah salah satu keturunan para migran dari daratan Asia bagian tengah. Mereka juga menggunakan bahasa Melayu yang disebut dengan bahasa Melayu Raiu. Bahasa Melayu ini tidak jauh berbeda dengan bahasa Indonesia sekarang, malah dianggap sebagai salah satu dasar bahasa Indonesia. Bahasa Melayu Riau disebut juga Bahasa Melayu Tinggi, karena awalnya digunakan sebagai bahasa sastra oleh masyarakat Indonesia pada akhir abad yang lalu. Sebelum mengenal tulisan Latin, masyarakat Melayu Riau menuliskan gagasan mereka dalam tulisan arab – melayu atau arab gundul (Zulyani Hidayah, 1999).
Asal usul Bahasa Di Indonesia Rating: 4.5 Diposkan Oleh: al bathn