Struktur dan Fungsi Organ Sistem Pencernaan pada Manusia

Jumat, 06 Februari 2015

Struktur dan Fungsi Organ Sistem Pencernaan pada Manusia

Sistem pencernaan melibatkan beberapa organ yang membentuk saluran pencernaan yang saling berhubungan dengan ukuran panjang kira-kira 9 meter, serta beberapa kelenjar pencernaan untuk membantu proses pencernaan. Saluran pencernaan terdiri atas beberapa organ seperti diuraikan pada tabel berikut.

Beberapa organ pencernaan dan fungsinya
  1. Mulut : Makan, mengunyah, menelan, dan tempat dimulainya pencernaan kimiawi zat tepung.
  2. Pangkal kerongkongan (faring) : Membawa makanan ke kerongkongan.
  3. Kerongkongan (esofagus) : Membawa makanan ke lambung dengan gerak peristaltik.
  4. Lambung (ventrikulus) : Menghasilkan asam lambung, mengubah makanan menjadi bentuk chyme (seperti bubur), tempat pencernaan protein dimulai.
  5. Usus halus (intestine) : Mencampur chyme dengan cairan empedu, dengan enzim yang dihasilkan di usus halus dan pankreas.
  6. Usus besar (colon) : Membusukkan sisa makanan yang tidak tecerna, dibantu oleh bakteri, penyerapan kembali air dari kotoran (feses).
  7. Anus : Defekasi (pembuangan sisa-sisa makanan).

Untuk memahami dan mengenal tempat, kedudukan alat dan kelenjar pencernaan, pelajari Gambar berikut:
Sistem pencernaan

1. Mulut


Di dalam mulut terdapat sejumlah alat yang membantu proses pencernaan baik secara mekanik maupun kimiawi. Pencernaan mekanik terjadi pada saat makanan berukuran besar dihaluskan dengan bantuan gigi, makanan digigit, dipotong, dikunyah hingga berukuran kecil, dibantu lidah dan otot pipi. Saat mengunyah, makanan lalu dicampur air ludah sehingga menyebabkan makanan terdorong ke pangkal kerongkongan. Di atas permukaan lidah terdapat sejumlah bintil-bintil perasa.
Kelenjar ludah

Pencernaan kimiawi dapat terjadi karena pada rongga mulut terdapat kelenjar pencernaan penghasil enzim. Kelenjar pencernaan di dalam rongga mulut terdiri atas tiga pasang, yaitu:
1. kelenjar ludah, menghasilkan air ludah (saliva) ke dalam rongga mulut;
2. kelenjar parotid, terletak di depan dan sedikit ke bawah dari telinga;
3. kelenjar sublingual, terletak di bagian depan mulut di bawah lidah dan kelenjar submandibularis terletak di belakang sublingualis.

Langit-langit mulut dibentuk dari langit-langit keras pada bagian depan dan langit-langit lembut pada bagian belakang yang memisahkan rongga mulut dengan saluran hidung. Pada bagian sisi belakang terdapat perpanjangan ke arah bawah langit-langit lembut membentuk uvula. Pada setiap sisi di belakang rongga mulut terdapat sepasang tonsil palatin. Kelenjar ini tidak berhubungan dengan pencernaan, tetapi jika terjadi peradangan yang kronis harus diambil.

  • Gigi
Terdapat empat macam gigi, yaitu gigi seri (insisor = I) , gigi taring (caninus = C), geraham depan (premolar = Pm), dan geraham belakang (molar = M). Makanan dipotong dengan gigi seri, dirobek gigi dengan taring dan dikunyah dengan gigi geraham. Pada orang dewasa, gigi yang lengkap terdiri atas 32 buah. Biasanya jumlah gigi dihitung pada satu rahang atas dan satu rahang bawah dengan rumus: Kiri Kanan
M P C I I C P M
Rahang atas 3 2 1 2 2 1 2 3 Rahang atas

Rahang bawah 3 2 1 2 2 1 2 3 Rahang bawah
Pada anak-anak belum terdapat geraham belakang atau molar sehingga rumusnya sebagai berikut.
Angka yang di atas menunjukkan gigi pada rahang atas, dan angka yang di bawah menunjukkan gigi pada rahang bawah. Jumlah gigi pada kedua rahang tersebut masing-masing 16 buah meliputi insisor: 4 buah, caninus 2 buah, premolar 4 buah, molar 6 buah. Jadi, seluruh gigi orang dewasa = 2 x 16 = 32 buah
Pada mamalia, tiap famili mempunyai susunan gigi yang berbeda, misalnya tikus rumus giginya sebagai berikut.

Gigi memiliki tiga bagian utama meliputi:
1. mahkota gigi yang terletak menonjol di atas tulang;
2. leher gigi;
3. akar gigi, tertanam di dalam tulang rahang.

Sebagian besar gigi tersusun atas dentin, yaitu suatu zat yang keras, tetapi mahkota gigi dilapisi email yang sangat keras. Rongga pada gigi (pulpa) berisi pembuluh darah dan saraf gigi pembuluh saraf. Bagian yang Sumber: Biology for You, Garreth menutup dan mengelilingi leher gigi disebut gusi, perhatikan Gambar 5.3.
Gigi manusia
  • Lidah
Lidah membantu mengaduk atau membolak-balikkan makanan serta membantu proses menelan. Selain itu, juga membantu mem– bentuk suara. Pada permukaan lidah terdapat tonjolan-tonjolan papila yang berfungsi sebagai pengecap yang dapat membedakan rasa. Perhatikan letak papil-papil pengecap pada Gambar 5.4.
Daerah pengecapan pada lidah

2. Kerongkongan

Kerongkongan merupakan saluran penghubung antara mulut dan lambung. Satu pertiga bagian atasnya tersusun atas otot lurik, dua pertiga bagian bawahnya terdiri atas otot polos. Makanan bergerak melalui saluran pencernaan oleh adanya gerak peristaltik, suatu kontraksi otot menyerupai gelombang di dalam saluran pencernaan. Kerongkongan menyalurkan makanan dari pangkal kerongkongan (faring) ke lambung dalam waktu 6 detik. Proses menelan makanan dapat kamu lihat pada Gambar 5.5.
Proses menelan makanan (a, b, c), gerak peristaltik (d)

3. Lambung

Lambung, selain merupakan tempat menyimpan sementara makanan, juga merupakan tempat mencerna makanan secara mekanik dan kimiawi. Dengan adanya otot yang melingkar (sirkular), menyerong (obligus), dan memanjang (longitudinal), makanan dihancurkan, dihaluskan sehingga berbentuk seperti bubur (chymus). Dengan berbagai getah lambung (sakus gastrikus) yang dihasilkan 2-3 liter/hari, zat makanan yang kompleks disederhanakan. Pengeluaran getah lambung ini dipengaruhi oleh banyaknya makanan yang masuk ke dalam lambung.

Lambung merupakan organ pencernaan yang terletak di sebelah kiri rongga perut bagian atas dan tepat di bawah diafragma. Lambung memiliki tiga bagian meliputi:
  1. kardiak pada bagian awal yang berhubungan dengan kerongkongan;
  2. fundus bagian tengah lambung yang membulat penghasil HCl dan musin;
  3. pylorus bagian ujung bawah lambung yang berhubungan dengan usus halus, dan usus 12 jari (duodenum) serta menghasilkan cairan alkali. Untuk lebih jelasnya, perhatikan Gambar 5.6.

Katup kardiak pada lambung terbuka sehingga makanan masuk ke lambung dan menutup untuk mencegah dimuntahkan kembali. Setelah makanan diubah ke dalam bentuk setengah cair (chymus), kemudian menuju usus halus di bawah kontrol katup pylorus . Kedua katup pada lambung tersusun atas otot melingkar yang disebut otot sphincter. Otot ini akan mengendur jika terkena asam dan mengerut jika terkena basa.

Hal ini bertolak belakang dengan otot pylorus yang terdapat di pangkal usus halus sehingga terjadi pengaturan pengeluaran makanan dari lambung ke usus halus.
Lambung dengan bagian-bagiannya

Pada dinding lambung terdapat kelenjar yang menghasilkan getah lambung (sekret) yang mengandung:
  1. Hormon gastrin, berfungsi untuk merangsang pengeluaran getah lambung.
  2. Asam lambung (HCl), berfungsi mengaktifkan enzim pepsinogen menjadi pepsin yang dapat memecah protein menjadi peptone, membunuh kuman-kuman dalam makanan karena pH 1,0 – 1,5 menyebabkan situasi lambung asam. HCI-Pepsinogen pepsin-Protein pepsin peptone
  3. Enzim Renin, berfungsi menggumpalkan protein susu (kasein). renin Emulsi kasein kasein (menggumpal)
  4. Enzim lipase, berfungsi untuk menguraikan lemak menjadi asam lemak dan gliserol lipase Lemak asam lemak + gliserol

4. Usus Halus

Usus halus terdiri dari tiga bagian meliputi:
a. Usus dua belas jari (duodenum), panjangnya ± 0,25 meter
b. Usus kosong (yeyenum), panjangnya ± 7 meter
c. Usus penyerapan (illeum), panjangnya ± 1 meter

Gambar 5.7
Bagian-bagian penyusun usus halus

Struktur mikroskopis usus 12 jari (duodenum). Pembatas yang menyerupai sikat memperlihatkan mikrovilis pada permukaan dua buah tonjolan villi.

Lapisan dalam dinding usus yeyenum dan ileum mempunyai tonjolan-tonjolan halus yang disebut villus atau villi (jamak) yang berfungsi memperluas bidang penyerapan sari makanan. Di dalam usus halus, chymus bercampur dengan cairan empedu yang dihasilkan kantung empedu, getah pankreas, dan getah usus halus. Getah pankreas dihasilkan pankreas. Getah usus halus dihasilkan dinding sebelah dalam dari usus halus.

Getah usus (sukus enterikus) dihasilkan oleh dua macam kelenjar sebagai berikut:
a. kelenjar Brunner, berada di doudenum menghasilkan musin dan enzim proteolisis (pemecah protein);
b. kelenjar Lieberkuhn, berada di sepanjang usus halus, bermuara di celahcelah villi menghasilkan getah usus.

Getah usus mengandung bahan organik dan anorganik. Bahan organik terdiri atas enzim-enzim sebagai berikut.
a. Amilase, memecah amilum menjadi disakarida.
b. Enterokinase, mengubah tripsinogen dari prankeas menjadi tripsin.
c. Tripsinogen enterokinase tripsin. Tripsin memecah protein menjadi polipeptida (peptida)
d. Erepsin, memecah peptida menjadi asam amino.
e. Lipase, memecah lemak menjadi asam lemak dan gliserol.
f. Disakarase, memecah disakarida menjadi monosakarida.

Pada usus halus terjadi proses pencernaan mekanik ataupun kimiawi yang diikuti proses penyerapan sari makanan yang terjadi di usus halusbagian ileum (usus penyerapan). Karbohidrat diserap dalam bentuk glukosa, sedangkan protein diserap dalam bentuk asam amino. Glukosa dibawa oleh darah ke hati melalui vena porta hepatika dan dalam hati glukosa berlebihan diubah menjadi glikogen dengan bantuan hormon insulin. Glikogen disimpan dalam otot dan hati, sedangkan glukosa yang diperlukan dari hati dialirkan ke jantung melalui vena kava inferior.

Lemak dicerna menjadi asam lemak dan gliserol. Sebelum diserap oleh usus halus, asam lemak diemulsikan terlebih dahulu oleh garam empedu, yang kemudian dicerna oleh enzim lipase menjadi asam lemak dan gliserol. Penyerapan dilakukan melalui proses difusi, osmosis, dan transpor aktif. Di dalam villus, asam lemak dan gliserol dibawa oleh pembuluh chyl (pembuluh limfatikus) atau pembuluh getah bening. Selanjutnya oleh pembuluh limfatikus yang bermuara pada vena kava dibawa ke jantung, sedangkan garam empedu akan masuk ke dalam darah, ke hati untuk dijadikan empedu kembali. Vitamin dan garam-garam empedu tidak mengalami pencernaan. Proses penyerapan sari-sari makanan pada usus halus, dapat juga secara ringkas kamu lihat pada Gambar 5.9 berikut ini.

5. Sekum (Caecum)

Pangkal usus besar disebut sekum. Apendiks atau umbai cacing sering disebut pula usus buntu, merupakan perpanjangan dari sekum. Sisa makanan yang tidak diserap diteruskan ke dalam usus besar melalui katup ileoceccal yang juga memiliki otot sphincter.

6. Usus Besar (Kolon)

Usus besar pada umumnya terdiri atas usus besar ascending (menaik), transvers (melintang), descending (menurun), dan berakhir pada rektum, yaitu bagian berotot yang mengeluarkan kotoran melalui anus. Perhatikan skema usus besar di samping ini.
Usus besar tidak memiliki villi sehingga tidak terjadi penyerapan sarisari makanan, tetapi terjadi penyerapan air sehingga feses menjadi lebih padat. Pada kolon juga terjadi proses pembusukan sisa pencernaan (yang tidak dapat diserap usus halus) oleh bakteri

Escherichia coli yang menghasilkan gas H S, NH , indole, skatole, dan vitamin K (berperan dalam proses pembekuan darah).

Gambar 5.11 Skema usus besar

7. Anus

Pada kolon paling akhir terdapat bagian yang disebut rektum yang panjangnya 15 cm dan diakhiri dengan anus (dubur). Anus merupakan bagian akhir sistem pencernaan yang berfungsi untuk lubang pengeluaran sisa pencernaan. Pada anus terdapat otot volunter yang dikendalikan oleh kehendak kita.

8. Organ-Organ Kelenjar Pencernaan

Organ-organ kelenjar pencernaan yang berhubungan dengan sistem pencernaan, yaitu hati dan pankreas. Hati sebagai kelenjar pencernaan terbesar berhubungan erat dengan kantung empedu dan pankreas.

a. Hati (Hepar)

Hati memiliki beberapa lobus (belahan) yang masing-masing mempunyai saluran empedu (duktus hepatikus). Pada lipatan hati terdapat kantung empedu (vesica felea) yang berfungsi untuk menyimpan sekresi hati. Kantung empedu mempunyai saluran (duktus sistikus) yang berhubungan dengan duktus hepatikus dan bermuara pada duktus koledokus dan mengalirkannya ke usus 12 jari (duodenum).
Hati

Hati mempunyai fungsi sebagai berikut:
1. penawar racun;
2. tempat penyimpanan cadangan glukosa dalam bentuk glikogen;
3. penghasil cairan empedu;
4. perombak eritrosit yang sudah tua;
5. penyintesis protein, albumin, globulin, dan fibrinogen.

Empedu (chole) adalah suatu cairan setengah kental berwarna kuning keemasan (kehijauan) pH-nya 7,6 – 8,6 rasanya pahit sekali. Berasal dari hasil perombakan sel-sel darah merah yang sudah rusak atau tua. Bahan–bahan yang terkandung di dalam empedu, yaitu garam-garam (Na dari bahan asam glikolat dan asam taurokolat), pigmen (bilirubin, urobilin, dan biliverdin), kolesterol, dan garam-garam mineral (klorida dan bikarbonat).

Empedu berfungsi mengurangi tegangan permukaan dari lemak, mengaktifkan lipase dalam usus, memberi warna feses, menolong daya absorpsi lemak pada dinding usus dan menciptakan reaksi alkali pada usus (klorida dan bikarbonat). Pengeluaran empedu dikontrol oleh hormon koleositokinin

b. Pankreas
Prakreas berada dalam lipatan duodenum, berbentuk huruf U yang rebah (Gambar 5.13). Pada pankreas terdapat dua macam kelenjar, yaitu kelenjar endokrin menghasilkan hormon insulin, sedangkan kelenjar eksokrin menghasilkan getah pankreas (duktus pankreatikus) 1,5 liter per hari melalui dua saluran, yaitu duktus pankreatikus utama dan tambahan. Kedua saluran ini bermuara ke duodenum.

Pankreas

Getah pankreas memiliki pH 8, berfungsi menetralkan chymus yang bersifat asam dari lambung, serta mengandung NaHCO3 (bersifat basa) dan enzim-enzim. Enzim tersebut adalah lipase pankreas, amilopsin, nuklease, disakarase, enterokinase, dan tripsin. Tiap-tiap enzim bekerja sebagai berikut:

1. Emulsi lemak lipase asam lemak dan gliserol
2. Amilum amilopsin maltosa
3. Asam nukleat nuklease nukleotida
4. Disakarida disakarase monosakarida enterokinase
5. Tripsinogen tripsin
6. Tripsin memecah protein menjadi polipeptida dan dipeptida (pepton)
7. Erepsin memecah pepton menjadi asam amino
8. Pepton erepsin asam amino dengan bagian–bagian tertentu yang khusus dan berakhir pada anus.
Struktur dan Fungsi Organ Sistem Pencernaan pada Manusia Rating: 4.5 Diposkan Oleh: al bathn