Bahan-Bahan Pencemar Air dan Pengukuran Pencemaran Air

Minggu, 07 Desember 2014

Bahan-Bahan Pencemar Air dan Pengukuran Pencemaran Air

Pencemaran air adalah masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi, atau komponen lain ke dalam air atau berubahnya tatanan air oleh kegiatan manusia atau oleh proses alam sehingga kualitas air turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan air menjadi kurang atau tidak berfungsi lagi sesuai dengan peruntukannya.
Mencari air bersih
Mencari air bersih

Bahan-Bahan Pencemar Air

Pencemaran air dapat terjadi pada sumber mata air, sumur, sungai, rawa-rawa, danau, dan laut. Bahan pencemaran air bisa berasal dari limbah rumah tangga, limbah industri, limbah pertanian, limbah bahan-bahan berbahaya dan beracun, serta tumpahan minyak bumi.

a) Limbah Rumah Tangga

Coba perhatikan kegiatan yang terjadi di dalam rumah tangga, pasar, perkantoran, rumah makan, penginapan, dan sebagainya! Kegiatan-kegiatan di tempat tersebut akan menghasilkan sampah/limbah yang disebut limbah rumah tangga. Jadi, limbah rumah tangga merupakan limbah yang berasal dari hasil samping kegiatan perumahan seperti rumah tangga, pasar, perkantoran, rumah penginapan (hotel), rumah makan, dan puing-puing bahan bangunan serta besi-besi tua bekas mesin-mesin atau kendaraan. Limbah rumah tangga bisa berasal dari bahan organik, anorganik, maupun bahan berbahaya dan beracun.

Ada dua macam limbah organik yaitu limbah organik basah dan limbah organik kering. Limbah organik basah adalah limbah yang kadar airnya masih cukup tinggi (lebih dari 70%) seperti kulit buah dan sayuran. Sebaliknya, limbah organik kering adalah limbah yang kadar airnya rendah (di bawah 30%) seperti kertas, dedaunan, kayu, dan ranting.

Jenis limbah yang berasal dari bahan anorganik, antara lain seperti besi, aluminium, plastik, kaca, dan bahan kimia. Sedangkan jenis limbah berbahaya dan beracun pada umumnya jenis limbah yang mengandung merkuri seperti kaleng bekas cat semprot, minyak wangi.

b) Limbah Industri

Kegiatan industri selain menghasilkan produk utama (bahan jadi), juga menghasilkan produk samping yang tidak terpakai, yaitu limbah. Jenis limbah yang berasal dari industri dapat berupa limbah organik berbau seperti limbah pabrik tekstil atau limbah pabrik kertas dan limbah anorganik berupa cairan panas, berbuih dan berwarna, yang mengandung asam belerang, berbau menyengat seperti limbah pabrik baja, limbah pabrik emas, limbah pabrik cat, limbah pabrik pupuk organik, limbah pabrik farmasi, dan lain-lain Jika limbah industri tersebut dibuang ke saluran air atau sungai akan menimbulkan pencemaran air dan merusak atau memusnahkan organisme di dalam ekosistem tersebut.

Pernahkah Anda mendengar terjadinya kebocoran tanker minyak di lautan? Apabila ini terjadi dapat membahayakan kehidupan di laut. Ikanikan, terumbu karang bahkan binatang-binatang laut akan mati sehingga sangat berpengaruh pada kehidupan manusia. Bagaimana cara mengatasinya? Polutan dibatasi dengan pipa mengapung dan ditaburi dengan zat yang dapat menguraikan minyak yang bertujuan agar polutan tidak tersebar.

c) Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun

Limbah bahan berbahaya dan beracun, antara lain timbul akibat adanya kegiatan pertanian berupa obat-obatan pembasmi hama penyakit (pestisida misalnya insektisida) dan pupuk organik, misalnya urea. Bagaimana insektisida atau urea dapat menimbulkan pencemaran air?

Jika kita membuang insektisida di lingkungan sungai atau danau, maka lingkungan perairan tersebut akan tercemar dan terjadi kerusakan, bahkan yang lebih parah lagi terjadi kepunahan kehidupan di dalam ekosistem tersebut. Hal itu disebabkan setiap jenis makhluk hidup memiliki kemampuan beradaptasi berbeda terhadap pencemaran. Ada sebagian makhluk hidup yang langsung mati dan sebagian makhluk hidup lain yang masih mampu bertahan terhadap pencemaran, tetapi di dalam tubuhnya terkandung bahan beracun.

Pengukuran Bahan Pencemar Air

Pengukuran pencemaran air dapat ditentukan dengan pengukuran secara biologis dan kimia.

a) Pengukuran Pencemaran Air secara Biologis

Pengukuran pencemaran air secara biologis merupakan pengukuran kualitatif (mutu) air tercemar. Pengukuran pencemaran air secara biologis tersebut hanya untuk menentukan besar dan tingkat pencemaran air. Indikator yang sering digunakan biasanya adalah makhluk hidup yang ada di dalam air itu. Alasannya, karena makhluk hidup yang digunakan sebagai indikatornya selalu berada terus menerus di dalam air yang terpengaruh langsung oleh bahan pencemar. Setiap jenis makhluk hidup tersebut mempunyai daya tahan (adaptasi) yang berbeda-beda terhadap bahan pencemar. Jika makhluk hidup itu mempunyai daya tahan tinggi, maka ia akan tetap bertahan hidup, tetapi jika makhluk hidup memiliki daya tahannya rendah atau peka terhadap bahan pencemar, maka akan mudah mati, bahkan punah.

Untuk mengetahui tingkat pencemaran air sungai, kita dapat menggunakan cacing planaria. Bentuk cacing ini pipih dan peka terhadap bahan pencemar. Habitat planaria berada pada lingkungan yang airnya jernih dan banyak mengandung oksigen. Jika di sungai masih banyak kita temukan cacing planaria, berarti sungai tersebut belum tercemar. Apabila keberadaan cacing planaria semakin sedikit atau punah sama sekali, maka dapat dikatakan pencemaran air di sungai itu semakin tinggi.

Meskipun pengukuran pencemaran air secara biologis hanya dilakukan dengan cara pengamatan saja, tetapi hasilnya lebih mudah terlihat dibandingkan dengan pengukuran pencemaran air secara kimia, seperti telah dijelaskan pada uraian di atas. Hal itu disebabkan makhluk hidup yang digunakan sebagai indikatornya selalu terus menerus berada di dalam air yang terpengaruh langsung oleh bahan pencemar.

b) Pengukuran Pencemaran Air secara Kimia

Pengukuran pencemaran air secara kimia merupakan suatu pengukuran untuk menentukan besarnya kadar bahan pencemar dengan menggunakan bahan kimia. Pengukuran pencemaran secara kimia dapat dilakukan antara lain dengan pengukuran kadar CO2, pengukuran pH air, dan pengukuran Biological Oxygen Demand (BOD).

(1) Pengukuran Kadar CO2
Tingkat pencemaran air dapat diukur dengan cara tetrimetri untuk menentukan kadar CO2 terlarut dalam air. Semakin banyak organisme yang hidup di dalam air, maka semakin tinggi kadar CO2 yang terdapat di dalam air itu karena gas CO2 yang terlarut di dalam air berasal dari proses pernapasan organisme yang terdapat di dalam air itu. Semakin banyak organismenya, maka gas oksigen yang terlarut di dalam air semakin banyak, atau sebaliknya.

(2) Pengukuran pH Air
Pengukuran pH air dapat dilakukan dengan cara mencelupkan kertas lakmus di dalam air, kemudian dilihat perubahan warnanya dan dibaca lalu dicocokkan dengan warna standar yang tersedia. Air alami yang belum tercemar memiliki kisaran pH antara 6,5 – 8,5, yang sangat cocok untuk kehidupan organisme di dalam air. Apabila air memiliki pH lebih rendah dari 6,5 maka air tersebut dikatakan asam, sebaliknya jika air memiliki pH lebih tinggi dari 8,5 maka air tersebut dikatakan alkalis. Untuk perubahan (naik atau turun) setiap satu tingkat skala pH maka perubahannya turun atau naik 10 kali dari pH normal, sebagai contoh pH air turun dari 5 ke 4 maka perubahan keasaman turun 10 kali dari kondisi semula. Sebaliknya, apabila pH air naik dari 9 ke 10 maka perubahan kealkalisan naik 10 kali. Kondisi air yang semakin asam atau semakin alkalis menjadi semakin tidak cocok bagi kehidupan organisme di dalam air, sehingga jika pH air semakin asam akan semakin sedikit organisme yang hidup di dalamnya, bahkan tidak ada sama sekali.

(3) Pengukuran Biological Oxygen Demand (BOD)
Pada pelajaran sebelumnya Anda sudah mengetahui tentang fungsi mikroba. Mikroba berguna untuk menguraikan zat-zat organik dengan memerlukan oksigen, akibatnya kadar oksigen yang terlarut dalam air semakin berkurang. Semakin banyak bahan pencemar organik yang ada di dalam perairan, semakin banyak populasi mikroba sehingga oksigen yang digunakan semakin banyak pula, akibatnya kadar oksigen dalam perairan semakin sedikit atau kecil. Banyaknya oksigen terlarut yang diperlukan oleh mikroba untuk mengoksidasi bahan organik sebagai konsumsi oksigen biologis atau BOD. BOD dalam proses biologi merupakan indikator pencemaran organik yang paling banyak digunakan sebagai kontrol kualitas air atau untuk menilai kepekatan limbah. Hal ini dilakukan karena teknik BOD tidak memerlukan waktu yang lama dan alat-alat yang digunakan sangat sederhana.

Penentuan BOD meliputi pengukuran DO (Disolved Oxygen /oksigen terlarut) yang digunakan oleh mikroorganisme untuk oksidasi biokimia dari bahan organik. Dalam praktik biasanya digunakan inkubasi selama 5 hari pada suhu 20°C. Untuk menjamin kebenaran hasil yang diperoleh, sering kali sampel diencerkan dengan air pengencer yang telah dipersiapkan khusus sehingga hasilnya cukup dan oksigen tetap tersedia selama periode inkubasi. Kontrol kualitas air dengan indikator BOD dan DO lebih tepat digunakan untuk limbah rumah tangga.
Bahan-Bahan Pencemar Air dan Pengukuran Pencemaran Air Rating: 4.5 Diposkan Oleh: al bathn