Perkembangan Pers pada Masa Penjajahan Belanda

Senin, 17 November 2014

Perkembangan Pers pada Masa Penjajahan Belanda

Perkembangan Pers pada Masa Penjajahan Belanda


Sejalan dengan masuknya teknologi modern dan paham-paham baru ke Indonesia pada akhir abad ke-19, masuklah pula pers sebagai media massa baru. Pada mulanya media massa tersebut, yaitu surat kabar dan majalah, hanya digunakan oleh orang Barat dan orang Cina, dan tujuan penerbitannya juga berbeda, sesuai dengan kepentingan masing-masing. Waktu itu kebebasan pers Melayu-Cina pada masa peralihan abad ini, sudah mulai dijumpai berita yang bersifat politik seperti cita-cita gerakan Cina modern yang dipimpin oleh Dr. Sun Yat-Sen dan berita yang menentang pemerintah Belanda.

Pers berbahasa Melayu, umumnya berbahasa Melayu rendah dan ke- banyakan dimodali serta diterbitkan oleh orang Cina, namun mempunyai lingkungan pembaca yang luas di kalangan rakyat pribumi. Beberapa surat kabar yang terbit waktu itu adalah di Sumatra Sinar Soematra, Tjahaja Soematra, Pemberitaan Atjeh dan Pertja Barat. Di Jawa : Bromartani, Bintang Panji, Pewarta Soerabaja, Kabar Perniagaan, Pemberitaan Betawi, Pewarta Hindia, Bintang Pagi, Sinar Djawa, Slompret Melajoe dan Poetra Hindia. Di Kalimantan : Pewarta Borneo, dan di Sulawesi : Pewarta Menado.

Di samping yang berbahasa Melayu tentu saja ada yang berbahasa daerah setempat. Dapat dikatakan bahwa sesudah dan sebelum Kebangkitan Nasional, hampir semua kota besar di Indonesia memiliki surat kabar sendiri. Surat kabar atau majalah yang mempunyai oplah beberapa ribu, waktu itu sudah dianggap besar.

Selain ada surat kabar yang dikenal membawa suara pemerintah. Di antaranya yang dua terbit di Jakarta yaitu : Pantjaran Warta dan Bentara Hindia dan satu di Ujungpandang : Sinar Matahari. Suatu surat kabar Indonesia yang muncul tahun 1903 disusun secara modern dan menggunakan surat kabar sebagai alat untuk membentuk pendapat umum ialah Medan Prijaji yang di- terbitkan di Bandung.

Perkembangan pers Indonesia kecuali dipengaruhi oleh pers Belanda, juga oleh penerbit-penerbit dan percetakan-percetakan yang umumnya dimiliki oleh orang-orang Belanda dan Cina di kota-kota terpenting. Keadaan ini merupakan indikator munculnya unsur perubahan masyarakat kota, terutama di Jawa. Sudah tentu hal ini bertalian pula dengan makin berkembang ekonominya, terutama perdagangan.

Bangkitnya kesadaran nasional bangsa Indonesia dan berdirinya organisasi- organisasi seperti Budi Utomo, Sarekat Islam dan Indische Partij, mendorong pemerintah kolonial untuk menghambat pengaruh pers bumiputra itu. Caranya adalah dengan mendirikan surat kabar sendiri dalam bahasa Melayu dan memberikan subsidi kepada surat kabar yang moderat dalam pemberitaannnya. Kelihatan bahwa hampir setiap organisasi massa atau partai yang tumbuh di Indonesia mempunyai surat kabar atau majalah sebagai pembawa suara organisasinya masing-masing untuk menarik massa.

Kadang-kadang satu orga- nisasi memiliki lebih dari satu surat kabar atau majalah. Akan tetapi, terlihat juga dalam perkembangannya bahwa karena kekurangan modal dan keahlian, banyak dari surat kabar atau majalah tersebut tidak berumur lama. Di samping itu ada kemungkinan bahwa penerbitannya dilarang oleh pemerintah kolonial kaarena dianggap menghasut apa yang disebutkan pers delict.

Budi Utomo memiliki surat kabar Darmo Kondo mempunyai pembaca yang cukup besar di pulau Jawa. Sarekat Islam memiliki Oetoesan Hindia (1913- 1923) yang mempunyai pengaruh luas terhadap suratkabar yang terbit di daerah- daerah. Surat kabar ini dikendalikan oleh pimpinan Central Sarekat Islam dan kebanyakan pemimpinnya ikut mengisi halaman surat kabar ini dengan artikel yang bermutu tinggi. Tidak hanya soal politik yang dibahas, tetapi juga ekonomi dan sosial budaya, bahkan juga soal keamanan dalam negeri.

Singkatan nama- nama terkenal waktu itu sebagai penulis artikel lain : O. S. Tj. (Oemar Said Tjokroaminto), A. M. (Abdul Muis), H.A.S. (Haji Agus Salim), A.H.W. (Wignyodisastro), dan lain-lain. Indisce Partij memiliki Het Tijdschrift dan De Express, yang dipimpin oleh E. F. E. Doewes Dekker. Meskipun kedua media ini mengunakan bahasa Belanda, namun isinya tertua yang berhubungan dengan masa depan Indonesia, jelas merupakan pokok-pokok pikiran yang ternyata merupakan perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Tokoh-tokoh Tjipto Mangunkusumo, Ki Hajar Dewantara, Abdul Muis dan lain-lain juga sering menulis artikel dalam media ini. Suatu risalah yang ditulis waktu itu oleh Ki Hajar Dewantara dengan judul “Als ik eens Nederlander was ..... “ (Andaikata aku orang Belanda), ternyata telah menggoncangkan pemerintah kolonial. Kelihatan sekali waktu itu bahwa Pergerakan Nasional terjalin erat dengan perkembangan pers nasional. Banyak dari tokoh-tokoh pers adalah juga tokoh-tokoh partai. Untuk kepentingan orang-oarang Belanda, banyak dari berita-berita surat kabar/majalah Indonesia dibuat suatu ikhtisar dan memuat surat kabar Belanda seperti Koloniaal Tijdschrift dan Java Bode, dan kemudian juga dalam IPO.

Lahirnya PKI pada tahun 1920 menambah jumlah surat kabar partai. Terutama setelah partai itu menjalankan agitasi dan propaganda dan untuk membangkitkan kegelisahan sosial, maka pengaruhnya menjalar sampai ke seluruh pelosok tanah air. Golongan masyarakat yang selama itu terisolasi dari bacaan, kini mulai mendengar dan melihat media yang tidak sepenuhnya mereka pahami.
Suatu majalah yang juga mempunyai pengaruh besar pada Pergerakan Nasional yaitu Indonesia Merdeka yang diterbitkan oleh Perhimpunan Indonesia di Negeri Belanda dalam dua bahasa, Belanda dan Indonesia. Penulis artikel dalam majalah ini tidak dicantumkan. Bahkan penyebarannya di Indonesia dilakukan secara rahasia.

Jelaslah bahwa sejalan dengan Kebangkitan Nasional, pers Indonesia juga mengalami kemajuan, dan juga berpengaruh pada bidang kehidupan lain. Adakalanya surat kabar Islam, yang beraneka ragam di tengah-tengah tekanan pemerintah dan depresi (tahun 20-an) merupakan juga pertanda bahwa umat Islam telah bangun. Untuk mengimbangi semua hal tersebut, pemerintah Belanda menerbitkan beberapa ratus judul berupa buku-buku “netral”, dan setiap tahunnya dicetak sejumlah sejuta eksemplar dan disebar di seluruh Indonesia. Penerbitan ini dilaksanakan oleh Balai Pustaka. Adanya penerbitan tersebut me- nunjukkan bahwa di Indonesia sedang terjadi suatu evolusi. Surat kabar telah menyatakan hal itu dengan jelas. Proses-proses yang terjadi di Barat (Eropa) dalam waktu berabad-abad, di Indonesia terjadi dalam beberapa puluh tahun saja.

Keampuhan pers sebagai media massa yang utama membuat pemerintah kolonial memperlakukannya dengan keras. Pada permulaan tahun 30-an tatkala pemerintah kolonial sangat reaksioner sekali, pers mengalami kelumpuhan. Boleh dikatakan bahwa untuk masa-masa terakhir penjajahan Belanda, pers nasional apalagi yang radikal, sulit untuk bersuara.
Perkembangan Pers pada Masa Penjajahan Belanda Rating: 4.5 Diposkan Oleh: al bathn